Mendorong Perusahaan UKM IPO

    Ade Hapsari Lestarini - 21 Agustus 2019 09:40 WIB
    Mendorong Perusahaan UKM IPO
    Ilustrasi lantai bursa. (Foto: MI/Panca Syurkani).
    Jakarta: Potensi bisnis usaha kecil dan menengah (UKM) masih luas untuk dikembangkan. Apalagi jika sudah melantai di bursa melalui mekanisme pencatatan umum saham perdana alias IPO, akan diburu investor. Akses UKM dalam memperoleh dana segar pun luas dari IPO.

    Kepala Riset PT Koneksi Kapital Alfred Nainggolan mengatakan perusahaan kelas menengah merupakan perusahaan yang dinilai lebih membutuhkan pendanaan.

    "Pengusaha UKM ini butuh dana segar untuk dapat mengembangkan bisnisnya, mayoritas mereka memilki potensi bisnis yang bagus," tutur Alfred, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Rabu, 21 Agustus 2019.

    Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) 53/POJK.04/2017, perusahaan kategori kecil adalah yang memiliki total aset kurang dari Rp50 miliar, sedangkan kategori menengah memiliki total aset antara Rp50 miliar hingga Rp250 miliar. Saat ini jumlah UMKM di Indonesia mencapai 62,92 juta unit usaha atau 99,92 persen dari total unit usaha di dalam negeri. Kontribusi UMKM terhadap PDB mencapai 60 persen serta penyerapan tenaga kerja 116,73 juta orang atau 97,02 persen dari total angkatan kerja yang bekerja.

    Pada tahun ini hingga pertengahan Juli 2019, sudah 32 perusahaan yang melakukan IPO dan masih terdapat 16 perusahaan yang masih antri sebagai calon emiten baru dalam waktu dekat. PT Optima Prima Metal Sinergi (OPMS), perusahaan pionir besi scrap kapal bekas terbesar di Indonesia, asal Surabaya, bakal IPO dalam waktu dekat ini, dan akan tercatat di sektor industri dasar.

    Alfred menambahkan calon investor yang ingin memburu saham IPO perusahaan UKM harus memperhatikan tujuan penggunaan dana IPO.

    "Jika dana hasil IPO perusahaan UKM nantinya digunakan untuk pengembangan usaha atau ekspansi, itu sangat bagus, sehingga patut menjadi incaran para investor,” tuturnya.

    Selain itu, Alfred memperhatikan potensi bisnis dari perusahaan UKM yang akan IPO tersebut. Dia menilai prospek OPMS kedepannya cukup bagus mengingat perusahaan ini pionir di bidang besi scrap kapal bekas di Indonesia.

    "Mungkin pelaku usaha dengan bidang yang sama dengan OPMS itu banyak, namun mayoritas masih dilakukan perorangan. Dengan adanya perusahaan yang mengelola, bahkan tercatat di bursa, maka proses due dilligence dinilai akan lebih baik dari sisi legalitas, finansial dan juga operasional,” ucap Alfred.

    Direktur Utama OPMS Meilyna Widjaja menjelaskan sektor industri pengolahan khususnya logam dasar selalu bertumbuh positif dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Untuk 2017 dan 2018 sektor ini bertumbuh 5,87 persen dan 8,99 persen.  Hal ini didukung oleh menguatnya sektor logam dasar ditopang dengan industri penunjang lain yaitu konstruksi dan manufaktur khususnya otomotif yang merupakan konsumen utama dari logam dasar.

    Begitu juga pemerataan pembangunan infrastruktur di luar Pulau Jawa seperti pembangunan infrastruktur transportasi (jalan tol, jembatan, bandara, pelabuhan), power plant, dan bendungan  memberikan efek yang sangat baik bagi sektor logam.

    "Kami melihat peluang bisnis besi scrap ini sangat besar karena kebutuhan akan bahan dasar logam dasar selalu bertumbuh positif. Dengan fundamental ini, kami ingin terus meningkatkan kapasitas kami dalam menghasilkan besi scrap," tutur Meilyna.

    OPMS, sebagai perusahaan pioneer besi scrap kapal bekas terbesar di Indonesia, setahun memotong sebanyak 8-10 kapal bekas. Kapal bekas yang menjadi target merupakan kapal yang melebihi usia operasional dan tidak bisa diasuransikan lagi yakni kapal berusia sekitar 25 tahun ke atas.

    Sepanjang 2019, OPMS menargetkan menjual 24 ribu ton besi scrap hasil pemotongan dari kapal-kapal bekas. Untuk merealisasikan target tersebut OPMS akan terus menambah kontrak pembelian kapal bekas dan sudah menjalin kerjasama dengan perusahaan-perusahaan pelayaran di Indonesia.

    Bagi perusahaan pengolahan besi baja, menurut data US Environmental Protection Agency, penggunaan besi scrap jauh lebih efisien, yakni untuk menggantikan biji besi murni mampu menghemat penggunaan raw material/bahan baku sebesar 90 persen, menghemat energi sebesar 75 persen, menghemat penggunaan air sebesar 40 persen, mengurangi polusi air sebesar 76 persen, dan mengurangi limbah tambang sebesar 97 persen.

    "Dengan memasok bahan baku besi scrap ke perusahaan pengolahan besi baja, kami juga ikut mengurangi impor. OPMS dengan standar produk yang dimiliki optimistis bisa mengoptimalkan peluang bisnis yang sangat besar ini," tutur Meilyna.




    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id