PT PP Segera Bangun Pembangkit Listrik di Ibu Kota Baru

    Husen Miftahudin - 06 September 2019 18:32 WIB
    PT PP Segera Bangun Pembangkit Listrik di Ibu Kota Baru
    Ilustrasi pembangkit listrik. FOTO: dok PLN.
    Jakarta: PT PP (Persero) Tbk segera membangun pembangkit listrik di ibu kota baru, Kalimantan Timur (Kaltim). Langkah ini dilakukan sebagai upaya untuk mendukung merealisasikan target pemerintah yang meningkatkan konsumsi listrik nasional menjadi sebesar 1.129 kWh per kapita.

    Perusahaan konstruksi dan investasi itu akan membangun pembangkit listrik dual fuel mobile power plant. Rencananya, perusahaan akan membangun mobile power plant PLTMG dengan daya sebesar 30 MW yang terletak di Bontang, Kaltim.

    "Mobile power plant PLTMG Bontang 30 MW yang terletak di Bontang, Kaltim, dibangun dengan masa pembangunan selama sembilan bulan," kata Direktur Operasi 3 PT PP Abdul Harris Tatang dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 6 September 2019.

    Selain di Kaltim, PT PP juga bakal membangun tiga pembangkit listrik pada waktu yang bersamaan di lokasi terpencil. Di antaranya mobile power plant dengan daya 20 MW Nabire PLTMG yang terletak di Nabire, Provinsi Papua, dengan masa pembangunan selama enam bulan.

    Kemudian, lanjutnya, mobile power plant Ternate 30 MW PLTMG yang terletak di Pulau Ternate, Provinsi Maluku Utara, dengan masa pembangunan selama enam bulan. Juga mobile power plant 20 MW Flores MHP, terletak di Labuan Bajo, Provinsi Nusa Tenggara Timur, dengan masa pembangunan selama 12 bulan.

    Selama proses pembangunan, Perseroan bekerja sama dengan Wärtsilä Finland sebagai pemasok utama gas engines yang diperlukan untuk pembangkit listrik. Seluruh mesin pendukung pembangkit listrik dirakit dan dikirim langsung dari Finlandia ke Indonesia melalui pengiriman jalur laut.

    "Perseroan telah melakukan terobosan baru dan langkah yang besar dalam mentuntaskan proyek pembangkit listrik dari sisi kualitas pekerjaan yang rapi, waktu pengerjaan, efisien, terutama dari sisi HSE (Health, Safety, Environment) sehingga mampu menghasilkan pembangkit listrik berkualitas tinggi," urai Abdul.

    Dia mengakui rencana pembangunan pembangkit listrik itu menghadapi berbagai tantangan selama proses konstruksi. Mulai dari keterbatasan sumber daya, jalur pengiriman engine gas yang jauh, tantangan geografis, kondisi cuaca, serta masa konstruksi yang cukup singkat.

    Namun, sebutnya, hal tersebut tidak menjadi hambatan bagi tim proyek perseroan dalam membangun empat pembangkit listrik tersebut.

    "Dengan sinergi dan koordinasi yang baik seluruh stakeholders, tantangan tersebut mampu membawa warna tersendiri, hingga akhirnya empat pembangkit listrik selesai dengan kualitas terbaik dan tepat waktu, tepat biaya, menerangi rumah-rumah masyarakat di daerah terpencil Indonesia," tutup Abdul.

    Konsumsi listrik di Indonesia secara kontinyu terus menunjukkan peningkatan dan telah mengubah gaya hidup penduduknya.

    Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), konsumsi listrik di Indonesia pada 2017 mencapai 1.012 kWh per kapita atau naik 5,9 persen dari tahun sebelumnya. Untuk tahun ini, pemerintah menargetkan konsumsi listrik masyarakat akan meningkat menjadi 1.129 KWh per kapita.

    Untuk mengantisipasi kenaikan ini, pemerintah juga meningkatkan kapasitas pembangkit pada tahun ini menjadi sebesar 65 GW dari realisasi tahun lalu sebesar 60 GW. Salah satunya dengan mencanangkan program pemerintah 35 GW di Indonesia. Saat ini, rasio elektrifikasi di seluruh provinsi di Indonesia sudah di atas 70 persen, kecuali Nusa Tenggara Timur dan Papua.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id