Perundingan Dagang AS-Tiongkok Diyakini Tak Jegal Rupiah

    Husen Miftahudin - 22 November 2019 17:08 WIB
    Perundingan Dagang AS-Tiongkok Diyakini Tak Jegal Rupiah
    Ilustrasi. FOTO: AFP.
    Jakarta: Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) bergerak fluktuatif selama sepekan ini. Meski, gerak mata uang Garuda itu cenderung melemah.

    Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengakui pelemahan rupiah terjadi akibat isu perundingan dagang antara Amerika Serikat dengan Tiongkok. Para investor lebih memilih menarik dana-dananya ke luar negeri.

    Hal ini terlihat dari adanya aliran dana asing keluar (outflow). Berdasarkan catatan BI yang dipaparkan Perry, secara week to date (wtd) hingga 21 November 2019 dana-dana asing terjadi outflow sekitar Rp2 triliun.

    "(Outflow) dari SBN Rp1 triliun, saham Rp0,4 triliun, dan obligasi korporasi Rp0,5 triliun," ujar Perry di kompleks perkantoran Bank Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat, 22 November 2019.

    Perry menyebut isu perundingan dagang AS-Tiongkok menjadi faktor utama para investor menarik dana-dana mereka. "Trump dan Xi Jinping katanya mau sepakat, tapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda kesepakatan. Makanya ada tanda-tanda risiko di global, dan ini membuat investor membawa keluar dananya," jelas dia.

    Namun demikian, Perry yakin aliran modal asing masuk kembali ke Indonesia pada awal tahun depan. Ini sesuai dengan pola musimannya, meski ada juga pengaruh kenaikan risiko global karena perundingan AS-Tiongkok.

    Perry menekankan, kecenderungan rupiah yang tidak stabil masih dalan kondisi normal. Apalagi mekanisme pasar berlangsung baik, sehingga ia yakin rupiah bergerak stabil di posisi Rp14.100 per USD.

    "Eksportir masih terus kasih suplai ke pasar valas dan importir yang bayar Utang Luar Negeri (ULN). Ini tercermin dari pergerakan rupiah yang stabil," tegas Perry.

    Perry kembali menegaskan Bank Indonesia akan tetap ada di pasar untuk melakukan langkah-langkah stabilisasi yang diperlukan. "Alhamdulillah suplai dan demand pasar baik," tutup dia.

    Pada perdagangan Jumat pagi atau di akhir pekan ini, nilai tukar rupiah terhadap USD melemah dibandingkan dengan perdagangan sore di hari sebelumnya di posisi Rp14.091 per USD. Mata uang Garuda belum berhasil meredam keperkasaan mata uang Paman Sam meski Bank Indonesia tidak mengubah tingkat suku bunga acuan.

    Mengutip Bloomberg, Jumat, 22 November 2019, nilai tukar rupiah pada perdagangan pagi dibuka tertekan ke Rp14.100 per USD. Pagi ini nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp14.100 per USD. Sedangkan menurut Yahoo Finance, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp13.885 per USD.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id