comscore

Performa Turun, Prediksi StanChart Lepas Saham di Bank Permata

Annisa ayu artanti - 01 Maret 2019 15:48 WIB
Performa Turun, Prediksi StanChart Lepas Saham di Bank Permata
Standard Chartered. (FOTO: AFP)
Jakarta: Analis Binaartha Sekuritas Nafan Aji menilai aksi Standard Chartered (StanChart) yang dikabarkan akan melepas saham sebesar 44,56 persen di PT Bank Permata Tbk (BNLI), lantaran performa Bank Permata menurun.

"BNLI bagi StanChart mengalami under perform (penurunan)," kata Nafan Aji saat dihubungi Medcom.id, Jumat, 1 Maret 2019.
Nafan menjelaskan meski fundamental Bank Permata cukup kuat, selama tiga tahun terakhir net profit perseroan bak roller coaster. Bank Permata mencatat net profit tinggi pada 2016 sebesar Rp6,49 triliun. Lalu pada 2017 anjlok menjadi Rp7,48 miliar dan kemudian pada 2018 mulai merangkak menjadi Rp9,36 miliar.

"Namun angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan Rp6,5 triliun. Jadi wajar saja StanChart itu akan melakukan divestasi Bank Permata," jelas Nafan.

Selain itu, tambah dia, secara statistik Standard Chartered memang banyak mengurangi porsi sahamnya di banyak perusahaan global. Hal itu dilakukan untuk mengurangi beban perusahaan.

"Divestasi Bank Permata itu bertujuan dalam rangka mengurangi beban bagi Standard Chartered itu sendiri," ucap dia.

Saat dikonfirmasi, Head Corporate Affairs Bank Permata Richele Maramis enggan berkomentar mengenai rencana divestasi Standard Chartered tersebut. "Permata Bank bukan dalam posisi untuk berkomentar tentang pemegang saham," ucap Richele kepada Medcom.id.

Sebelumnya diberitakan StanChart berencana mendivestasikan sekitar 45 persen saham Bank Permata atau PermataBank. Aksi korporasi tersebut disebut sebagai salah satu bagian dari rencana untuk membebaskan modal sebagai imbal hasil ke investor melalui skema pembelian kembali saham atau buyback.

Kepala Eksekutif StanChart Bill Winters mengatakan rencana itu meningkatkan pengembalian modal kepada investor melalui kemungkinan pembelian kembali saham dan dividen yang lebih tinggi, yang dapat berlipat ganda pada 2021. Adapun saham Standard Charted telah kehilangan sekitar 37 persen dari nilainya sejak Winters mengambil alih kepemimpinan pada 2015.

"Kami sudah memiliki anggaran investasi yang sehat yang dimasukkan ke dalam rencana kami, sehingga penambahan modal harus tersedia untuk pembelian kembali dalam jangka waktu yang relatif singkat," kata Winters, seperti dikutip dari Financial Times, Rabu, 27 Februari 2019.

(AHL)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id