Virus Korona, Investor Disarankan Lebih Sensitif

    Annisa ayu artanti - 01 Februari 2020 18:00 WIB
    Virus Korona, Investor Disarankan Lebih Sensitif
    Ilustrasi. FOTO: Medcom.id/Annisa Ayu Artanti
    Jakarta: Peralihan tahun selalu menjadi momen menarik bagi investor pasar modal. Sentimen pada Januari lalu seharusnya mampu membuat investor lebih menaruh perhatian ekstra terhadap kinerja emiten-emiten unggulan, khususnya di saham-saham perusahaan blue chips.

    Managing Director Bareksa Prioritas Ricky Rachmatulloh menganjurkan para investor untuk lebih jeli dalam menentukan langkah di market. Terutama di tengah merebaknya isu eksternal yang berkembang.

    Apalagi pandemi virus korona yang bermula dari daratan Tiongkok memengaruhi sentimen pasar dan menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona merah.

    “Bareksa Prioritas mengarahkan investor agar tetap stay invested di market namun dengan lebih sensitif dalam mengambil keputusan untuk menentukan alokasi asetnya," kata Ricky dalam keterangan tertulisnya, Sabtu, 1 Februari 2020.


    Ia menjelaskan 67 persen perusahaan-perusahaan S&P 500 yang telah merilis laporan keuangannya telah membukukan laba yang lebih baik dari perkiraan. Selain itu, kinerja rupiah juga terpantau menguat dengan kenaikan signifikan sebesar dua persen sejak awal tahun.

    "Hal ini semakin menjadi alasan untuk menguatkan tingkat optimisme investor agar tidak melakukan aksi cut-loss kendati isu regional tengah menunjukkan gejala siaga," terang dia.

    Terkait minat investor high net-worth dalam merespon kondisi market, Ricky menyebut investor tetap memilih untuk bertahan di market dengan mengambil opsi yang lebih terukur. Misalnya, produk-produk Reksa Dana Pasar Uang yang digunakan sebagai 'tempat parkir' sementara, sambil mengambil momentum masuk ke pasar saham atau obligasi jangka menengah dan panjang.

    Secara umum, kata Ricky, para advisor Bareksa Prioritas cukup optimis melihat faktor internal, khususnya dari sisi nilai tukar rupiah dan kebijakan akomodatif pemerintah.

    “Investor high net-worth cenderung tidak terlalu gegabah dalam melihat fenomena-fenomena seperti ini. Selain dari anjuran kami untuk tetap peka dan sensitif pada isu regional, agaknya secara karakter, investor memiliki preferensinya sendiri dalam menentukan kapan harus keluar dan masuk ke market," tambah dia.

    Adapun dalam lingkup transaksi reksa dana, technical correction IHSG dapat dimanfaatkan dengan aksi profit taking atau realokasi aset Reksa Dana Saham ke Pasar Uang atau Pendapatan Tetap.

    Ricky menyebutkan investor yang memiliki aset dalam bentuk dolar Amerika Serikat dapat memilih reksa dana dengan denominasi USD yang memiliki fokus exposure ke pasar saham Amerika Serikat dan Asia Pasifik.


    Asset class equity yang banyak menempatkan dananya di offshore dan domestik sedang kami telaah potensinya. Paling tidak sampai dengan tiga bulan mendatang. Di awal tahun, seiring dengan tren penguatan di yield bonds yang sudah terjadi, biasanya minat investor akan berlanjut ke pasar equity kedepannya," pungkasnya.




    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id