Faktor Penentu Saham Baru IPO Tiarap ke Level Gocap

    Nia Deviyana - 31 Desember 2019 11:18 WIB
    Faktor Penentu Saham Baru IPO Tiarap ke Level <i>Gocap</i>
    Illustrasi. Foto : MI/RAMDANI.
    Jakarta: Dalam dinamika pasar modal, seringkali saham yang baru melantai di bursa atau nelakukan Initial Public Offering (IPO) melonjak pada level harga yang tinggi. Namun, selang beberapa waktu saham-saham tersebut terjerembab ke deretan saham-saham Rp50 atau gocap.

    Meski demikian, belum tentu saham-saham gocap adalah saham gorengan. Analis BNI Sekuritas William Siregar menjelaskan ada beberapa faktor yang membuat fenomena itu terjadi.

    "Pertama, euforia IPO terkadang membuat harga saham melonjak di hari pertama perdagangannya," ujar William saat dihubungi Medcom.id, Selasa, 31 Desember 2019.

    Namun, bagi investor yang jeli, kata dia, biasanya bisa mengetahui apakah harga saham tersebut overvalue atau undervalue alias bakal menguntungkan atau tidak.

    "Karena ada yang ketika IPO menjual di atas harga bukunya atau harga sepantasnya. Katakanlah harga bukunya Rp100, dia jual Rp500. Nah itulah kenapa saham-saham IPO bisa naik ketika pembukaan, karna ada istilahnya hype, dia memanfaatkan euforia di pasar saham," jelasnya.

    William melanjutkan dalam jangka menengah dan panjang investor bakal menyadari apakah saham yang dibelinya saat IPO menguntungkan atau tidak.

    "Dalam jangka menengah atau panjang, biasanya investor menyadari harga saham ini terlalu kemahalan, melihat dari fundamentalnya yang cenderung tidak ada pergerakan, ataupun valuenya hanya sekedar Rp100, sehingga melakukan penjualan, bahkan di harga Rp50 kalau tidak ada pergerakan berarti," paparnya.

    Beberapa saham yang baru IPO terlihat belum mampu tumbuh dengan baik di antaranya PT Capri Nusa Satu Properti Tbk (CPRI) yang listing pada 11 April 2019 sudah berada pada Rp50 per lembar saham. PT Bliss Properti Indonesia Tbk (POSA) juga serupa. PT Bhakti Agung Propertindo Tbk (BAPI) yang anjlok ke Rp50 per lembar saham.

    Saham Gorengan

    Berbicara soal saham gorengan, William mengatakan untuk mendeteksinya cukup mudah. Dia menerangkan saham gorengan pergerakannya sangat abnormal dan tidak sejalan dengan kinerja fundamentalnya, seperti kinerja keuangan yang mencakup laba bersih, pendapatan serta return on asset (ROA), dan return on equity (ROE).

    "Bahwa suatu hari saham ini bIsa bergerak 10 persen, atau mencapai 25 persen atau auto rejection atas, dan tidak sejalan dengan kinerja fundamentalnya. Fundamentalnya buruk tapi saham bisa naik atau turun signifikan dalam satu hari, itu namanya upnormal return," jelasnya.

    Agar tidak terkecoh saham gorengan, William mengatakan investor harus mengetahui core bisnis emiten sebelum memutuskan membeli saham.

    "Apakah menguntungkan, apakah profit, jasa dan produk dihasilkan apa. Jadi investor harus mengetahui detail saham apa yang ingin dibelinya, bukan hanya mengikuti arahan orang lain," imbuhnya.

    Istilah saham gorengan mencuat setelah kasus gagal bayar PT Asuransi Jiwasraya bergulir. Perusahaan pelat merah ini disebut melanggar prinsip kehati-hatian dalam menempatkan portofolio investasi ke saham-saham gorengan seperti PT SMR Utama Tbk (SMRU), PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM), PT Inti Agri Resources Tbk (IIKP), PT Hanson International Tbk (MYRX), PT Semen Baturaja Tbk (SMBR), dan PT Capitalinc Investment Tbk (MTFN).




    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id