AP II Jadi Pemegang Saham Pengendali Gapura Angkasa

    Annisa ayu artanti - 27 November 2019 11:47 WIB
    AP II Jadi Pemegang Saham Pengendali Gapura Angkasa
    Ilustrasi bandara. FOTO: dok MI.
    Jakarta: PT Angkasa Pura II (Persero) atau AP II menambah porsi kepemilikan saham di PT Gapura Angkasa dari sebelumnya 31,25 persen menjadi 46,62 persen melalui mekanisme rights issue.

    President Director AP II Muhammad Awaluddin mengatakan dengan penambahan porsi saham tersebut perusahaan menjadi pemegang saham pengendali atas PT Gapura Angkasa. Adapun pemegang saham lainnya adalah PT Garuda Indonesia Tbk sebesar 45,62 persen dan PT Angkasa Pura I sebesar 7,76 persen.

    "Sebagai pemegang saham pengendali, PT Angkasa Pura II menargetkan PT Gapura Angkasa dapat lebih besar seperti sekarang dengan melakukan berbagai ekspansi, di samping juga mendorong agar terciptanya efisiensi di dalam operasional maskapai serta kebandaraudaraan," kata Awaluddin dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 27 November 2019.

    Lebih lanjut, Ia menjelaskan PT Gapura Angkasa adalah salah satu penyedia jasa ground handling terbesar di Indonesia serta memiliki prospek untuk lebih berkembang ke depannya.

    Oleh karena itu, setelah menjadi pengendali Gapura Angkasa, AP II akan segera mengintegrasikan implementasi Smart and Connected Airport dalam satu ekosistem antara airside dan landside operation pada operasi bandar udara.

    Pada 2018, katanya, PT Gapura Angkasa sudah beroperasi di lebih dari 55 bandara di Indonesia, menangani sebanyak 80 juta penumpang pesawat dan 59 juta bagasi penumpang, serta mencatatkan tingkat on time performance dari maskapai yang dilayani mencapai 99,44 persen. Selain ground handling, jasa yang disediakan PT Gapura Angkasa antara lain pergudangan (warehousing) dan layanan kargo.

    "Penambahan kepemilikan saham di PT Gapura Angkasa ini juga merupakan strategi PT Angkasa Pura II dalam memperbesar kontribusi pendapatan dari bisnis nonaeronautika," ungkap dia.

    Setelah menjadi mayoritas pemegang saham, Awaluddin menambahkan, perusahaan menargetkan peningkatan kontribusi pendapatan dari bisnis nonaeronautika. Saat ini kontribusi pendapatan nonaeronautika masih sebesar 39 persen. Sementara yang terbesar masih dari bisnis aeronautika sebesar 61 persen.

    Bisnis nonaeronautika masih mencakup sewa ruang, sewa lahan dan konsesi di kawasan bandara. Sedangkan bisnis aeronautika meliputi pelayanan jasa pendaratan, penempatan dan penyimpanan pesawat udara (PJP4U), pelayanan jasa penumpang pesawat udara (PJP2U), dan pelayanan jasa garbarata.

    "Kami menargetkan kontribusi pendapatan nonaeronautika ke depannya mencapai minimal 50 persen dari total pendapatan," ujar dia.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id