Meraup Cuan dari Saham Emiten UKM Startup

    Ade Hapsari Lestarini - 09 September 2019 12:07 WIB
    Meraup <i>Cuan</i> dari Saham Emiten UKM <i>Startup</i>
    Ilustrasi. FOTO: dok MI.
    Jakarta: Investor saham terus melirik perusahaan usaha kecil dan menengah (UKM) dan startup yang melantai di bursa. Saat listing perdana, harga saham sejumlah emiten UKM ini hingga ke batas auto reject atas. Perusahaan UKM dan startup pun mendominasi calon emiten yang siap melantai bursa melalui Initial Public Offering (IPO) tahun ini.

    "Dengan jenis usaha dan model bisnis yang tepat, ditambah leadership perusahaan yang baik dan dengan dukungan proyeksi yang bagus untuk industri yang dijajaki, tentu emiten UKM tersebut menarik," ujar Analis Artha Sekuritas Frederik Rasali dalam hasil risetnya, Senin, 9 September 2019.

    Sejak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui POJK 53/POJK.04/2017 memberikan karpet merah kepada perusahaan skala kecil untuk melantai bursa, kesempatan tersebut digunakan untuk mendapatkan pendanaan baru, ekspansi bisnis dan meningkatkan kapasitas bisnis di masa depan.

    Dia menyarankan ada baiknya investor juga mencermati bukan hanya dari segi bisnisnya, namun juga valuasi dari emiten tersebut. Bila perusahaan yang IPO memiliki leadership yang baik, ekspansif, dan memiliki kemampuan bergerak di bidangnya, tetapi kondisi industri sedang melemah, tentunya akan menghambat pertumbuhan bisnis.

    "Dengan kondisi pertumbuhan yang signifikan, harga saham ditawarkan sudah tinggi pada saat IPO sehingga valuasinya tinggi dan susah unttuk meningkat lagi harganya," kata dia.

    Saat ini jumlah UMKM di Indonesia mencapai 62,92 juta unit usaha atau 99,92 persen dari total unit usaha di dalam negeri. Kontribusi UMKM terhadap PDB mencapai 60 persen serta penyerapan tenaga kerja 116,73 juta orang atau 97,02 persen dari total angkatan kerja yang bekerja.

    Beberapa saham IPO perusahaan UKM terbukti layak untuk dikoleksi. Sebagai contoh, PT Optima Prima Metal Sinergi (OPMS) berencana melantai di bursa pada akhir September 2019 dengan model bisnis yang unik di bidang besi scrap kapal bekas di Indonesia dan berpotensi berkembang lebih baik mengingat kebutuhan akan bahan mentah besi masih tinggi seiring pembangunan proyek infrastruktur di Tanah Air.

    Sebelumnya Kepala Riset PT Koneksi Kapital Alfred Nainggolan mengatakan calon investor yang ingin memburu saham IPO perusahaan UKM harus memperhatikan tujuan penggunaan dana IPO. Mengenai IPO OPMS, Alfred menilai prospek OPMS ke depannya cukup bagus mengingat perusahaan ini pioneer di bidang besi scrap kapal bekas di Indonesia.

    "Mungkin pelaku usaha dengan bidang yang sama dengan OPMS itu banyak, namun mayoritas masih dilakukan perorangan. Dengan adanya perusahaan yang mengelola, bahkan tercatat di bursa, maka proses due dilligence dinilai akan lebih baik dari sisi legalitas, finansial dan juga operasional," ucap Alfred.

    Direktur PT Sinarmas Sekuritas Kerry Rusli yang mewakili penjamin emisi efek, OPMS menawarkan sebanyak-banyaknya 400 juta saham baru atau sebesar 40 persen saham dari modal yang ditempatkan atau disetor penuh. Saham perdana akan dilepas pada kisaran harga Rp125-Rp135 per saham dengan price earning ratio (PER) OPMS berada di level 7,5-8 kali laba bersih akhir tahun ini yang diperkirakan mencapai Rp7,24 miliar.

    Price to book value (PBV) sekitar 0,41-0,45 kali. Dengan acuan tersebut harga OPMS kompetitif apabila dibandingkan dengan saham emiten lain di sektor serupa yang rata-rata memiliki PER di bawah 10 kali dan PBV di bawah satu kali.

    "Saham IPO OPMS ini sangat menarik untuk investor. Selain pemanfaatan dana IPO yang akan digunakan seluruhnya untuk penguatan modal, model bisnis OPMS sangat baru dan menarik perhatian para investor pasar modal," jelasnya.

    Direktur Utama OPMS Meilyna Widjaja menyampaikan IPO menjadi langkah besar perseroan untuk memperkuat bisnis sekaligus memperkenalkan secara luas industri besi scrap kepada industri besi baja di dalam negeri.

    "Model bisnis OPMS memang baru namun dengan proses due dilligence akan lebih baik dari sisi legalitas, finansial dan juga operasional memiliki prospek yang bagus kedepannya dan mampu menarik perhatian investor pasar modal," tutur dia.

    Dalam paparan publik yang digelar perusahaan tercatat bisnis perseroan terus meningkat. Pada April 2019, penjualan perseroan naik 44,2 persen menjadi Rp35,2 miliar dari Rp24,4 miliar pada April 2018. Penjualan ini mengontribusi perolehan laba perseroan yang meningkat menjadi Rp2,13 miliar pada April 2019.

    "Peluang pasar di industri besi baja cukup besar dimana sektor industri logam khususnya logam dasar selalu bertumbuh positif dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Kondisi pasar tersebut tentunya sangat mendukung pertumbuhan bisnis OPMS. Adapun target perusahaan pada 2019 akan menjual 24 ribu ton besi scrap hasil pemotongan dari sekitar 8-10 kapal bekas," ujar Meilyna.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id