comscore

Kaleidoskop 2021: Meski Tertekan, Sektor UMKM Paling Tahan Banting

Nia Deviyana - 30 Desember 2021 18:15 WIB
Kaleidoskop 2021: Meski Tertekan, Sektor UMKM Paling Tahan Banting
Ilustrasi UMKM. Foto: MI/Andri Widianto
Jakarta: Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan salah satu sektor yang masih tertekan di 2021 atau tahun kedua pandemi covid-19. Namun, sektor UMKM juga terbukti paling tahan banting.

Sektor UMKM menjadi salah satu penopang bagi pertumbuhan ekonomi. Data Kementerian Koperasi dan UKM mencatat jumlah UMKM hingga Maret 2021 mencapai 64,2 juta dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 61,07 persen atau senilai Rp8,57 triliun.
Kontribusi UMKM terhadap perekonomian Indonesia meliputi kemampuan menyerap 97 persen dari total tenaga kerja yang ada serta dapat menghimpun sampai 60,4 persen dari total investasi.

Jika dibandingkan dengan masa sebelum pandemi atau pada 2018 yang mana tercatat ada 64,18 juta unit UMKM dan kontribusinya kepada PDB sebesar 61 persen, sektor UMKM terbukti tahan banting karena kontribusinya sama sekali tidak berubah meskipun tertekan.

Ekonomi Indonesia dan pandemi di 2021


2021 sebenarnya menjadi momentum yang membuka peluang bagi perekonomian Indonesia untuk pulih. Hal tersebut tercermin dari pertumbuhan ekonomi RI pada kuartal II-2021 sebesar 7,07 persen secara year on year (yoy). Angka ini berbanding terbalik dengan kuartal sebelumnya yang terkontraksi hingga minus 5,32 persen.

Adapun capaian ini berhasil diperoleh setelah vaksinasi covid-19 untuk masyarakat umum yang dilakukan mulai April 2021, sehingga berkontribusi pada peningkatan mobilitas karena masyarakat yang sudah divaksin cenderung lebih pede untuk beraktivitas di luar rumah.

Sayangnya, momentum ini tak berlangsung lama di mana kemudian terjadi lonjakan kasus covid-19 akibat munculnya varian Delta yang menyumbang kematian tertinggi selama pandemi. Sejak itu, pemerintah memberlakukan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang lebih ketat untuk menekan penyebaran virus.

Mengapa UMKM harus diselamatkan?


PPKM yang ditetapkan secara berkelanjutan pada 2021 untuk mencegah penyebaran covid-19 menggerus omzet pelaku UMKM lantaran adanya penurunan konsumsi.

Survei Bank Indonesia terhadap keyakinan konsumen pada Januari 2021 sebesar 84,9 atau lebih rendah dari bulan sebelumnya yang sebesar 96,5. Artinya, masyarakat masih pesimistis dengan kondisi ekonomi selama enam bulan mendatang sehingga lebih memilih untuk menahan konsumsinya.

Begitu juga dengan Survei Bank Indonesia pada Juli 2021 sebesar 80,2 yang mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi masih tertahan seiring dengan kebijakan pengetatan mobilitas.

Rilis Katadata Insight Center (KIC) menunjukkan, mayoritas UMKM (82,9 persen) merasakan dampak negatif dari pandemi dan hanya sebagian kecil (5,9 persen) yang mengalami pertumbuhan positif.

Sementara itu, hasil survei dari beberapa lembaga (BPS, Bappenas, dan World Bank) menunjukkan pandemi juga menyebabkan banyak UMKM kesulitan melunasi pinjaman serta membayar tagihan listrik, gas, dan gaji karyawan. Beberapa di antaranya sampai harus melakukan PHK. Kendala lain yang dialami UMKM antara lain sulitnya memperoleh bahan baku, permodalan, pelanggan menurun, distribusi dan produksi terhambat.

Dengan kondisi tersebut, pada 2021 pemerintah kembali menyediakan sejumlah stimulus untuk menyelamatkan UMKM melalui kebijakan restrukturisasi pinjaman, tambahan bantuan modal, keringanan pembayaran tagihan listrik, dan dukungan pembiayaan lainnya.

Selain itu, pemerintah juga menyediakan insentif dukungan bagi UMKM melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang dilanjutkan di 2021. Realisasi PEN 2021 yang dianggarkan untuk mendukung UMKM sebesar Rp121,90 triliun.

Namun, yang menjadi masalah utama bagi UMKM saat pandemi sebenarnya terkait penyerapan produk. Berbagai stimulus yang diberikan pemerintah untuk meringankan serta mendorong keberlanjutan usaha tidak akan maksimal tanpa penyerapan produk.

Terkait hal tersebut Kementerian Koperasi dan UKM menjalin kerja sama dengan Kementerian BUMN untuk meningkatkan penyerapan produk UMKM oleh perusahaan pelat merah (BUMN). Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan ada dua skema implementasi penyerapan produk UMKM oleh BUMN yang disiapkan kedua kementerian, yakni melalui pasar digital dan rantai nilai BUMN.

Teten mengatakan pasokan produk UMKM dalam global value chain baru mencapai 4,1 persen. Diharapkan dengan kemitraan kedua kementerian berjalan baik sehingga bisa mendorong persentase produk-produk UMKM Indonesia masuk ke global value chain lebih besar lagi.

Untuk mendorong peningkatan persentase produk-produk UMKM Indonesia masuk ke global value chain, Kementerian Koperasi dan UKM juga menjalin kemitraan dengan pihak swasta. Langkah ini juga dilakukan untuk meningkatkan mutu produk UMKM.

Refleksi


Dalam menghadapi masa pandemi covid-19 yang cukup berat di 2021, hanya ada dua pilihan bagi UMKM yaitu berinovasi atau mati.

Pelaku UMKM harus bisa jeli melihat peluang. Misalnya, jangan berkutat pada usaha yang itu-itu saja tetapi juga melihat bagaimana tren permintaan di masyarakat dan bagaimana perubahan perilaku konsumen.

Selama pandemi memang sudah banyak UMKM yang melakukan diversifikasi usaha misalnya yang tadinya hanya menjual makanan mentah kini mulai menjual makanan ready to cook atau siap masak.

Data internal Tokopedia yang dilansir Mediaindonesia.com menunjukkan, jumlah penjual makanan siap masak di platform dagang online tersebut naik hampir tiga kali lipat. Begitu juga dengan transaksi makanan siap masak, tumbuh tiga kali lipat dibandingkan masa sebelum pandemi covid-19.

Meski digitalisasi UMKM juga menjadi keharusan, hal ini juga masih menjadi kendala mengingat literasinya yang masih belum merata. Masih banyak UMKM 'kaget' ketika menjual produknya di marketplace dan menerima banyak permintaan tetapi tidak memiliki kapasitas produksi atau ketersediaan barang yang memadai.

Serta untuk memiliki pasokan barang yang mencukupi, UMKM perlu modal. Dalam diskusi daring yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta bersama CrediBook bertema Pentingnya Ekosistem Digital untuk UMKM Naik Kelas menemukan fakta masih banyak pelaku UMKM belum memiliki pembukuan dan administrasi keuangan yang tertata. Hal ini yang membuat UMKM sulit mendapatkan akses permodalan saat mengajukan kredit ke bank.

Masih banyak strategi lainnya yang harus segera dilakukan pelaku UMKM agar geliat bisnis bisa terus berjalan seperti cara mempromosikan produk di media daring, meningkatkan kualitas produk, hingga membuat kemasan yang menarik. Begitu juga masih banyak pekerjaan rumah untuk pemerintah dalam menyokong sektor ini agar tetap bisa menjadi tulang punggung yang kokoh bagi perekonomian Indonesia.

(DEV)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id