Studi: Proyek Hilirisasi Batu Bara PTBA Berpotensi Bikin Kerugian Rp5 Triliun/Tahun

    Annisa ayu artanti - 10 November 2020 15:06 WIB
    Studi: Proyek Hilirisasi Batu Bara PTBA Berpotensi Bikin Kerugian Rp5 Triliun/Tahun
    Ilustrasi. Foto: AFP
    Jakarta: Proyek gasifikasi batu bara yang dikembangkan oleh PT Bukit Asam (Persero) Tbk di Sumatra diperkirakan dapat menyebabkan kerugian hingga Rp5 triliun.

    Hal itu terungkap dari studi terbaru yang dirilis lembaga kajian Internasional Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA).

    Kajian IEEFA menyatakan bahwa investasi di proyek gasifikasi batu bara dimethyl ether (DME) tidak memberikan manfaat ekonomi bagi Indonesia.

    Peneliti studi yang juga analis keuangan IEEFA Ghee Peh mengatakan bukan langkah yang tepat memberikan subsidi kepada proyek energi yang secara ekonomi tidak masuk akal. Ditambah Indonesia masih dihadapi kontraksi ekonomi akibat krisis covid-19.

    "Mengingat situasi saat ini, maka akan sulit untuk membenarkan pemberian subsidi dan dukungan pemerintah pada proyek gasifikasi batu bara yang hanya akan mendatangkan kerugian finansial," ujar Ghee Peh dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 10 November 2020.

    Proyek gasifikasi perusahaan dengan kode emiten PTBA tersebut akan memproduksi metanol dan akan dikembangkan untuk memproduksi DME. Rencananya, DME digunakan untuk menggantikan LPG yang diimpor Indonesia.

    Namun, IEEFA memperkirakan bahwa proyek ini dapat menyebabkan kerugian Rp5 triliun atau sekitar USD377 juta setiap tahun setelah mengurangi semua biaya operasi dan pembiayaan. Potensi kerugian tersebut akan menggerus penghematan yang didapatkan dari mengurangi impor LPG hingga Rp266,7 miliar atau USD19 juta.

    "Perhitungan kami menunjukkan bahwa biaya produksi DME akan dua kali lipat dari biaya impor LPG. Total biaya membangun fasilitas produksi DME adalah Rp6,5 juta per ton atau USD470 per ton, hampir dua kali lipat dari biaya yang Indonesia keluarkan untuk mengimpor LPG yang sejauh ini paling banyak digunakan untuk kebutuhan rumah tangga," jelasnya.

    Menurutnya, pemerintah Indonesia saat ini sudah dibebankan dengan pemulihan ekonomi nasional serta permintaan keringanan yang diajukan oleh industri batu bara.

    "Rasanya tidak bijak apabila beban tersebut ditambah dengan keharusan untuk mendukung proyek yang hanya akan menyebabkan kerugian," tukasnya. 

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id