comscore

Hemat Devisa hingga Rp56 Triliun, Pemanfaatan Kelapa Sawit Juga Genjot Pendapatan Petani

Husen Miftahudin - 10 November 2021 20:11 WIB
Hemat Devisa hingga Rp56 Triliun, Pemanfaatan Kelapa Sawit Juga Genjot Pendapatan Petani
Kelapa Sawit. Foto : AFP.
Jakarta: Pemerintah terus menggenjot produksi minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) dalam negeri untuk menggantikan bahan bakar fosil guna memberikan nilai tambah melalui pemanfaatan biodiesel. Karena dengan begitu, pemerintah bisa menghemat devisa negara.

Pemerintah setidaknya mencatat penghematan devisa sebesar Rp38 triliun di 2020 dan diperkirakan kembali akan menghemat devisa sebesar Rp56 triliun di 2021. Terlebih, CPO semakin dibutuhkan untuk berbagai pemenuhan kebutuhan pertumbuhan ekonomi seperti kosmetik, biodiesel, dan bahan turunan lainnya.
Di sisi lain, manfaat kelapa sawit juga meningkatkan pendapatan petani. Pelaku non sawit pun turut mendapatkan dampak ekonominya karena menyediakan barang atau jasa kebutuhan di sekitar perkebunan sawit.

Salah satunya seperti yang dilakukan PT Kurnia Luwuk Sejati. Perusahaan yang terletak di Kecamatan Toili, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, ini banyak menyerap tenaga kerja dari masyarakat di sekitar kebun.

Sampai akhir 2021, terdapat 7.214 petani plasma yang menjadi mitra kerja perusahaan yang tersebar di Baturube sebanyak 956 petani, Pandauke 1.411 petani, Pasir Lamba 2.296 petani, Bantayan 302 petani, dan Toili sebanyak 2.249 petani.

Salah satu petani plasma di perkebunan sawit Kurnia Luwuk Sejati, Abidin, mengaku terbantu dengan sistem mitra plasma yang dijalankan perusahaan. Menurutnya, pemanfaatan kelapa sawit oleh Kurnia Luwuk Sejati dapat mengembangkan perekonomian masyarakat.

"Semua orang dapat melihat fakta dan kenyataan, daerah yang ada sawit binaan PT Kurnia Luwuk Sejati, pertumbuhan, perkembangan, dan kemajuan perekonomian masyarakat sangat pesat," ungkap Abidin dikutip dari siaran persnya, Rabu, 10 November 2021.

Abidin bilang, ada ribuan petani yang bermitra menjadi petani plasma di perusahaan. Dalam bermitra, para petani hanya menyiapkan lahan.

"Selebihnya, mulai dari bibit hingga pupuk diberikan perusahaan. Saya rasa perusahaan telah menjalankan fungsi serta kewajibannya dengan sangat profesional," tuturnya.

Sementara itu, Legal Corporate Kurnia Luwuk Sejati memaparkan bahwa perusahaan tetap menaati semua regulasi pemerintah, mulai dari aturan tentang pemanfaatan lahan Hak Guna Usaha (HGU) dan plasma.

"Sebab kelengkapan dokumen hukum tentang legalitas kepemilikan lahan selalu menjadi perhatian perusahaan. Ini dilakukan agar mencegah hal-hal yang bisa merugikan, baik itu untuk perusahaan maupun untuk petani itu sendiri," pungkas Albertus.

(SAW)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id