Hampir 30 Juta UMKM Gulung Tikar Imbas Covid-19

    Husen Miftahudin - 28 Juli 2020 17:35 WIB
    Hampir 30 Juta UMKM Gulung Tikar Imbas Covid-19
    Ilustrasi UMKM - - Foto: dok MI
    Jakarta: Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan Perkasa Roeslani menyebut sebanyak 48,6 persen dari total 60 juta pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terpaksa melakukan penutupan usaha saat pandemi covid-19 menghantam Indonesia.
     
    Angka itu menandakan bahwa hampir 30 juta pelaku UMKM yang tutup sementara akibat pandemi. Data yang dibeberkan Rosan tersebut merupakan hasil survei Asian Development Bank (ADB) yang dipublikasikan pada Juli 2020.

    "Data dari survei ADB yang keluar Juli kemarin ini menyatakan bahwa hampir 50 persen dari total UMKM di Indonesia sudah melakukan penutupan usahanya," ujar Rosan dalam acara Kajian Tengah Tahun Institute For Development of Economics and Finance (Indef), Selasa, 28 Juli 2020.

    Selain itu, sebanyak 30,5 persen pelaku UMKM lainnya mengalami penurunan permintaan. Sedangkan sebanyak 19,8 persen mengalami gangguan produksi atau rantai pasok, dan 14,1 persen pelaku UMKM lainnya mengalami pembatalan kontrak.

    "Jadi menurut data ADB, 50 persen dari total UMKM kita ini sudah melakukan penutupan sementara. Sedangkan kita tahu bahwa kontribusi UMKM terhadap tenaga kerja kita ini sangat besar, hampir 96 persen," ungkapnya.

    Hal ini sejalan dengan data penjualan bulanan UMKM di Indonesia pada April 2020 dengan 49,3 persen di antaranya menutup sementara usahanya. Kemudian 37,7 persen lainnya mengalami penurunan lebih dari 30 persen, dan 4,4 persen penjualan bulanannya turun antara 21 hingga 30 persen.

    "Jadi kalau kita gabungkan antara yang turun lebih dari 30 persen dengan tutup sementara, ini angkanya menjadi 87,7 persen. Pendapatan bulanan UMKM juga mengalami penurunan yang kurang lebih hampir sama," ucap Rosan.

    Menurutnya, hasil survei ADB ini dapat dibuktikan dengan jumlah UMKM yang sudah mengajukan restrukturisasi kredit ke perbankan karena tak mampu menyelesaikan kewajibannya kepada perbankan akibat terdampak pandemi covid-19.

    "Ini tercermin dari UMKM yang meminta untuk direstrukturisasi yang ternyata ini inline dengan surveinya ADB bahwa kurang lebih Rp555 triliun yang di mana kalau total lending-nya perbankan terhadap UMKM itu hampir Rp1.100 triliun," papar dia.

    Hingga 30 Juni 2020 realisasi UMKM yang kreditnya sudah direstrukturisasi perbankan mencapai sebanyak Rp317,29 triliun dengan jumlah debitur mencapai 5,29 juta. Sementara sebanyak 1,27 juta non-UMKM telah merestrukturisasi kreditnya dengan total outstanding mencapai Rp423,5 triliun.

    "Kita lihat yang meminta (restrukturisasi) ini berarti sudah lebih dari 25 persen dari total lending perbankan kita sudah meminta proses restrukturisasi karena mereka mengalami kendala dalam rangka memenuhi komitmen mereka kepada pihak perbankan," jelasnya.

    Rosan melihat tingginya permintaan pelaku UMKM untuk direstrukturisasi terjadi dalam waktu singkat. Oleh sebab itu ia mengingatkan pemerintah dan juga perbankan agar realisasi restrukturisasi ini dipercepat sehingga dapat mencegah lebih banyak lagi UMKM yang menutup usahanya.

    "Jadi kalau kita lihat ini angkanya relatif dalam jangka waktu yang cukup singkat, tapi mempunyai dampak yang sangat signifikan terhadap perekonomian kita secara keseluruhan. Oleh sebab itu memang implementasi dari kebijakan pemerintah ini harus cepat," tutup Rosan. 

    (Des)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id