Sektor Pertanian RI Bakal Melaju saat RUU Cipta Kerja Disahkan

    Al Abrar - 18 September 2020 15:35 WIB
    Sektor Pertanian RI Bakal Melaju saat RUU Cipta Kerja Disahkan
    Ilustrasi. FOTO: MI/AMIRUDDIN ABDULLAH REUBEE
    Jakarta: Sektor pertanian Indonesia dinilai akan mampu bersaing dengan negara lain, ketika RUU Cipta Kerja disahkan. Akademisi Institut Pertanian Bogor (IPB) Prima Gandhi mengatakan penyederhanaan izin investasi di bidang pertanian akan lebih mudah dengan adanya RUU ini.

    "Bersaing pasti, karena itu tadi, ada efisiensi. Aturan tidak berbelit," kata Prima saat dihubungi, Jumat, 18 September 2020. 

    Prima mengatakan realitas saat ini membuat investor enggan menanamkan modalnya di sektor pertanian. Izin berinvestasi di sektor pertanian masih berbelit dan belum satu pintu.

    Prima mengaku mengalami sendiri betapa sulitnya berinvestasi di sektor pertanian dengan aturan yang sekarang. Misalnya saat dia hendak impor benih dari Tiongkok, prosesnya berbelit dan bisa membuat investor kabur.

    "Nah, dengan adanya RUU ini, diharapkan perizinan bisa jelas. Maksud saya begini, lewat satu pintu. Saya beberapa kali ketika mau mengimpor komoditas, walau impor benih untuk pangan, waktu itu bawang putih, itu dalam mengambil sampel benih itu dibawa dari Tiongkok berbelit-belit dan lama, sehingga orang jadi malas," beber dia.

    Selain penyederhanaan izin, Prima berbicara tentang data valid investor ketika RUU Cipta Kerja disahkan. Sebab, setiap izin investasi sektor pertanian, nantinya diarahkan satu pintu melalui Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

    "Kemudian data valid karena semua lewat BKPM. Jadi tahu siapa saja investor pertanian di Indonesia, BKPM bisa kasih data. Kalau sekarang mau investasi harus tanya ke daerah, provinsi," ujar dia.

    Namun, Prima mengingatkan tentang  potensi kapitalisasi sektor pertanian jika RUU Cipta Kerja disahkan. Upaya kapitalisasi berpotensi berujung ke okupansi lahan di Indonesia.

    "Ketika dia mengkapitalisasi di sektor pertanian, pasti akan mengokupansi lahan-lahan. Kenapa? Kalau investasi, kan, harus meningkat. Caranya mengambil lahan. Jangan sampai, nanti pangan berlimpah, tetapi bukan milik negara ini," ujar dia.


    (ALB)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id