Perajin Miniatur Pesawat Terbang di Boyolali Kebanjiran Pesanan

    Antara - 31 Mei 2021 19:16 WIB
    Perajin Miniatur Pesawat Terbang di Boyolali Kebanjiran Pesanan
    Perajin pesawat terbang. Foto : ANT.



    Boyolali: Perajin miniatur pesawat terbang di Dukuh Beran Desa Kismoyoso Kecamatan Ngemplak Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, di tengah pandemi justru kebanjiran pesanan dari berbagai daerah.

    Seorang perajin miniatur pesawat terbang, warga Beran RT 1 RW 1 Desa Kismoyoso, Deni Kurniawan mengatakan pesanan miniatur pesawat terbang produksinya datang dari kalangan Angkatan Udara (AU) baik dari perwira maupun instansinya.

     



    "Pemesan miniatur pesawat terbang biasanya digunakan untuk hiasan rumah atau kenang-kenangan pejabat kalangan TNI AU. Pesanan miniatur pesawat datang dari instansi dan perwira TNI AU baik di Jabar, Jakarta, Bandung maupun Yogyakarta," kata Deni dikutip dari Antara, Senin, 31 Mei 2021.

    Menurut Deni, pesanan miniatur pesawat terbang buatannya pada masa pandemi tetap ada. Ia rata-rata bisa mememproduksi lima unit miniatur pesawat per bulan. Biasanya membuat pesawat berdasarkan pesanan seperti pesawat milik TNI AU seperti pesawat latih, jet tempur, pesawat komersil, pesawat xtra 300 dan helikopter.

    Deni menjelaskan dirinya sejak duduk di SD sudah mencintai dunia penerbangan. "Saya kebetulan rumahnya dekat Bandara Adi Soemarmo di Boyolali. setiap hari bisa melihat pesawat baik pesawat latih milik Lanud juga pesawat komersial," kata Deni.

    "Saya akhirnya timbul rasa ingin memiliki dalam ukuran kecil dan mencoba membuat sendiri dengan bahan kayu seadanya atau barang bekas. Saya kemudian mulai bisnis membuat miniatur pesawat terbang ini, dengan memanfaatkan limbah kayu pada 2011 hingga sekarang," tambah Deni.

    Harga miniatur pesawat terbang produksinya bervariasi tergantung ukuran dan detailnya, tetapi yang paling murah ditawarkan sekitar Rp150.000 per unit, ada yang Rp300.000 per unit hingga Rp600.000 per unit.

    Menurut Deni, untuk membuat pesawat terbang tersebut dilakukan dengan cara manual menggunakan alat pertukangan seperti gergaji, pahat, amplas, lem, dan cat serta bahan plastik bekas botol.

    "Kemampuan produksi membuat kerajinan pesawat miniatur ini, rata-rata produk mentah 18 unit pesawat terbang per bulan. Namun, jika produk finishing bisa menghabiskan waktu hingga tiga bulan baru selesai," kata Deni.

    Pada masa pandemi ini, kata dia, rata-rata mampu menjual lima unit miniatur pesawat terbang per bulan. Sebelum pandemi bisa menjual hingga 12 unit per bulan.

    Pasawat miniatur produksinya juga ada yang bisa diterbangkan dengan harga mencapai Rp600.000 hingga Rp700.000 ribu. Jika bisa terbang dengan mesin kecil bisa menghabiskan sekitar Rp3 juta per unit.

    Deni mengaku ketrampilannya membuat miniatur pesawat terbang belajar secara alami. Meski begitu ia sedikit memahami prinsip dasar aeromodelling mulai dari bentuk sayap dan keseimbangan serta gratifikasinya. Syarat pesawat bisa terbang harus ringan, kuat untuk terbang dan gratifikasinya harus seimbang.

    "Kami pada masa pendemi pesanan tetap ada. Bahkan sampai menolak order karena waktunya yang tidak mampu memenuhi permintaan konsumen. Karena dalam produksi saya sendirian," katanya.


    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id