Industri Penerima Penurunan Harga Gas Diusulkan Bertambah

    Ilham wibowo - 19 Maret 2020 10:14 WIB
    Industri Penerima Penurunan Harga Gas Diusulkan Bertambah
    Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. Foto: dok Kemenperin.
    Jakarta: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengusulkan penambahan jumlah sektor industri yang akan bisa menikmati harga gas di level USD6 per juta metric british thermal unit (MMBTU). Langkah ini bertujuan untuk mendongkrak daya saing industri dan meningkatkan investasi di dalam negeri, yang diyakini dapat mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional.

    "Kami telah meminta tambahan sekitar 430 perusahaan yang sektor industrinya sudah ada dalam Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2016 tentang Penetapan Harga Gas Bumi," kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita melalui keterangan tertulisnya, Kamis, 19 Maret 2020.

    Adapun berdasarkan Perpres 40/2016, baru ada delapan sektor yang mendapatkan harga gas sebesar USD6 per MMBTU, yakni industri petrokimia, industri kaca (glassware), industri kaca lembaran, industri keramik, industri sarung tangan karet, industri baja, industri oleokimia, dan industri pupuk. Delapan sektor tersebut, Kemenperin sudah memasukkan 88 perusahaan.

    Selain itu, Menperin telah mengusulkan sebanyak 325 perusahaan yang akan bisa menikmati harga gas kompetitif di luar sektor yang sudah ada dalam Perpres 40/2016 tersebut. Sektor ini meliputi industri logam, industri otomotif, industri permesinan, industri makanan, minuman, dan refinery-minyak goreng, industri ban, serta industri pulp dan kertas.

    "Pada prinsipnya, Bapak Presiden menyetujui untuk memasukan usulan tambahan dari industri tersebut," kata Agus.

    Menperin menambahkan pihaknya telah memperhitungkan kebutuhan gas industri pada tahun ini sebesar 2.400 juta kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/MMSCFD).

    Sedangkan untuk tahun depan kebutuhannya akan mencapai 2.600 MMSCFD, dan pada 2024 kebutuhannya sebesar 3.600 MMSCFD. Sementara produksi gas dari dalam negeri diperkirakan sekitar 7.000 MMSCFD.

    "Jadi kalau kami lihat, kebutuhan gas industri sebetulnya pada 2020 ini hanya sepertiga dari produksi gas nasional," imbuhnya.

    Menurut Agus, ketersediaan pasokan gas industri penting untuk diperhatikan termasuk secara pararel mengeksplor lebih dalam lagi tentang opsi berkaitan dengan importasi gas agar ada harga yang kompetitif di dalam negeri. Opsi lainnya yaitu mengurangi atau bahkan menghilangkan jatah pemerintah dan pemberlakuan Domestic Market Obligation (DMO).

    "Tentu, ini yang akan kami pelajari untuk bisa segera dilaksanakan di daerah Sumatra. Sebab, di daerah Sumatra paling tidak sudah ada infrastruktur yang berkaitan dengan FSRU di Aceh dan Lampung," paparnya.

    Ke depan, lanjut Agus, pemerintah akan mengintensifkan upaya-upaya strategis untuk membangun infrastruktur-infrastruktur, termasuk akan mengundang pihak swasta, sehingga harga gas industri bisa ditekan menjadi USD6 per MMBTU. Permenperin baru akan diterbitkan setelah mendapat persetujuan.

    "Kemudian kami sampaikan juga, bahwa Bapak Presiden memerintahkan kepada kami untuk setiap saat melakukan evaluasi dan monitoring, agar kebijakan gas USD6 ini memang tepat sasaran. Tentu juga harapan kami bahwa kebijakan yang akan diimplementasikan pada 1 April ini akan membawa industri semakin tinggi performance-nya," ungkapnya.




    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id