Sri Mulyani Sebut Ada Sektor yang Meraup Untung di Tengah Wabah Covid-19

    Husen Miftahudin - 06 April 2020 20:23 WIB
    Sri Mulyani Sebut Ada Sektor yang Meraup Untung di Tengah Wabah Covid-19
    Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati. MI/Susanto.
    Jakarta: Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyatakan tidak semua sektor industri mengalami pertumbuhan negatif di tengah merebaknya pandemi virus korona (covid-19). Ada sektor-sektor yang justru meraup untung di tengah wabah virus yang menyerang sistem pernapasan tersebut.

    "Memang covid-19 menimbulkan dampak negatif cukup dalam bagi semua negara. Namun tidak semua sektor alami dampak negatif, ada sektor yang diperkirakan menjadi winner," ujar Sri Mulyani dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR secara virtual di Jakarta, Senin, 6 April 2020.

    Setidaknya terdapat enam sektor industri yang mampu meraup untung di tengah merebaknya pandemi ini. Di antaranya jasa telekomunikasi; jasa logistik; industri tekstil dan produk dari tekstil; kimia, farmasi, dan alat kesehatan; makanan dan minuman (mamin); serta industri elektronik.

    Potensi untungnya sektor industri tekstil dan produk dari tekstil lantaran mampu menghasilkan diversifikasi produk seperti alat pelindung diri (APD) dan masker. Sementara sektor kimia, farmasi, dan alat kesehatan dibutuhkan untuk menyokong kebutuhan primer seperti produk kebersihan dan vitamin.

    Sedangkan sektor jasa telekomunikasi dan industri elektronik bertumbuh karena adanya penerapan kebijakan work from home, social distancing, physical distancing, hingga pembatasan sosial berskala besar. Termasuk jasa logistik dan mamin yang dicari-cari untuk memenuhi kebutuhan layanan pesan antar makanan.

    Meski demikian, tak sedikit sektor-sektor yang terkontraksi cukup dalam imbas merebaknya covid-19 di Indonesia. Sektor pariwisata disebut menjadi sektor usaha yang terdampak paling dalam lantaran penurunan signifikan trafik dan travelling para turis.

    "Termasuk jasa hotel, restoran, hingga transportasi. Selain itu sektor pertambangan karena menurunnya permintaan komoditas, keuangan kemungkinan second round effect setelah sektor riil dan rumah tangga akibat penurunan aktivitas sehingga memungkinkan kenaikan NPL (Non Performing Loan/kredit macet)," beber dia.

    Industri otomotif juga diperkirakan mengalami penurunan signifikan lantaran anjloknya permintaan. Sementara sektor usaha mikro kecil menengah (UMKM) berpeluang melakukan diversifikasi produk meski permintaan masyarakat berpotensi mengalami penurunan.

    "UMKM pada 1997/1998 sangat resilient karena krisis di sektor keuangan dan korporasi besar. Tapi saat covid mereka terdampak karena tidak ada kegiatan sosial sehingga kemudian membuat kesulitan bagi para pelaku UMKM," tutup Sri Mulyani.



    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id