comscore

Indonesia Hadapi Dilema dari Kenaikan Harga Komoditas

Desi Angriani - 31 Desember 2021 16:31 WIB
Indonesia Hadapi Dilema dari Kenaikan Harga Komoditas
Ilustrasi. FOTO: Marketwatch
Jakarta: Indonesia menghadapi dilema akan kenaikan harga komoditas global. Pasalnya, kenaikan harga tersebut menjadi berkah bagi sektor ekspor namun tetapi mengancam industri dalam negeri.

Pusat Kajian Iklim Usaha dan Rantai Nilai Global LPEM FEB UI mencatat kenaikan kasus Omicron di banyak negara meningkatkan permintaan sehingga mengerek harga batu bara, minyak sawit, dan gas. Ketiga komoditas tersebut merupakan ekspor andalan utama RI.

 



Harga batu bara sempat meloncat ke titik tertinggi dalam sejarah yaitu USD269,5 per ton pada Oktober 2021. Harga minyak (brent) juga terbang ke titik USD85,76 per barel pada Oktober 2021, atau tertinggi selama tujuh tahun terakhir.


"Dalam menghadapi situasi ini Indonesia sebagai penghasil dan sekaligus pengguna komoditas menghadapi dilema," tulis laporan LPEM FEB UI, Jumat, 31 Desember 2021.

Adapun tantangan kenaikan harga komoditas bagi industri pengolahan domestik berakibat pada naiknya biaya input bagi industri. Selain kenaikan harga input, persoalan lainnya adalah kelangkaan atau sulitnya mendapatkan pasokan komoditas.

"Mengingat produsen lebih memilih untuk menjualnya ke pasar internasional ketika harga sedang tinggi," mengutip laporan tersebut.

Menurut LPEM FEB UI, peranan batu bara bagi perekonomian nasional sangat krusial lantaran masih menjadi sumber energi utama dalam negeri. Pada 2021 kebutuhan batu bara nasional diperkirakan mencapai 172 juta ton.

Berikut kebutuhan batu bara nasional:

  1. Input pembangkit listrik (70 persen).
  2. Industri pengolahan dan pemurnian (11 persen).
  3. Industri semen (10 persen).
  4. Industri tekstil dan kertas (empat persen).
  5. Industri pupuk (satu persen).
Pada saat harga batu bara global meningkat, produsen memprioritaskan pasar ekspor, sehingga berbagai industri pengguna batubara domestik mengalami kesulitan pasokan.

Begitu pula gejolak harga minyak kelapa sawit/Crude Palm Oil (CPO) memberikan dampak senada. Di dalam negeri, ada empat besar industri pengguna minyak kelapa sawit sebagai input, yaitu minyak goreng, oleo-chemical, sabun, dan margarin.

"Industri lain yang turut menggunakan CPO dan perannya diproyeksikan akan semakin krusial pada masa depan yaitu biofuel," tambah keterangan tersebut.

Sementara itu, peranan gas untuk industri domestik juga tidak kalah penting. Di antaranya industri pengolahan (28,22 persen), pabrik pupuk (12,45 persen), kelistrikan (12,04 persen),dan berbagai kebutuhan dalam bentuk LNG (8,91 persen).


(ABD)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id