Sri Mulyani Ungkap Kendala Pemanfaatan Energi Terbarukan Secara Global

    Eko Nordiansyah - 09 Oktober 2020 21:15 WIB
    Sri Mulyani Ungkap Kendala Pemanfaatan Energi Terbarukan Secara Global
    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati - - Foto: MI/ Erlangga
    Jakarta: Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati membeberkan kendala yang menghambat penerapan pembangunan hijau berbasis lingkungan secara global. Misalnya saja penggunaan energi baru terbarukan (EBT) nyatanya belum disepakati antarnegara-negara di dunia.

    Menurutnya, penggunaan batu bara serta minyak dan gas sebagai sumber energi bisa mulai dikurangi. Sebagai gantinya, pemanfaatan EBT dinilai bisa mendukung pembangunan yang lebih ramah lingkungan.

    "Kita punya sumber EBT seperti geothermal, hydro, dan sekarang juga ada energi cahaya dan bahkan angin. Masalahnya itu selalu soal harga yang tidak mencakup insentif yang tepat," kata dia dalam seminar virtual 7th OECD Forum on Green Finance and Investment di Jakarta, Jumat, 9 Oktober 2020.

    Ia menambahkan alasan lain belum banyaknya penggunaan EBT adalah karena harga yang dianggap lebih mahal dengan risiko cukup tinggi. Untuk itu, menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk mendorong penggunaan EBT sebagai sumber energi.

    "Contohnya Indonesia, punya banyak geothermal tapi untuk bisa menyediakan harga yang tepat di produk final, pemerintah harus menjelaskan isu soal risiko eksplorasinya. Nantinya dengan itu kita akan bisa memberikan garansi untuk eksplorasi, dan juga subsidi untuk investor di EBT ini," jelas dia.

    Di sisi lain, pemerintah juga perlu mendorong harga EBT bisa lebih murah dibandingkan energi konvensional. Pemerintah juga bisa menggunakan berbagai instrumen, seperti insentif perpajakan, garansi, maupun subsidi demi menekan harga EBT yang dianggap lebih mahal.


    Selain itu, kerja sama internasional juga dinilainya penting untuk mendukung agenda perlindungan lingkungan dan perubahan iklim. Indonesia, lanjut dia, sudah pernah menerbitkan obligasi berwawasan lingkungan (green sukuk), namun minat investor untuk surat utang ini terbilang masih sedikit.

    "Harus saya akui, sejak kita menerbitkan pada 2018 sampai sekarang, kami belum melihat perbedaan harga dari investor internasional. Meski ada kepedulian dan semangat tentang perubahan iklim, kami belum sepenuhnya melihat itu. Dan dampaknya pada instrumen yang akan memberikan nilai lebih baik jika menggunakan EBT," pungkasnya.

    (Des)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id