Subholding Sarana Infrastruktur Bikin Bisnis Krakatau Steel Makin Besar

    Suci Sedya Utami - 03 Mei 2021 16:57 WIB
    Subholding Sarana Infrastruktur Bikin Bisnis Krakatau Steel Makin Besar
    Ilustrasi. Foto: AFP



    Jakarta: Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) I Pahala N Mansury mendukung keberadaan subholding sarana infrastruktur Krakatau Steel (KS).

    Subholding ini terdiri dari anak-anak perusahaan KS yakni PT Krakatau Industrial Estate Cilegon (KIEC), PT Krakatau Bandar Samudera (KBS), PT Krakatau Tirta Industri (KTI), dan PT Krakatau Daya Listrik (KDI).






    Saat ini subholding tersebut tengah diperkenalkan pada calon investor strategis seperti Indonesia Investment Authority (INA) dan PT Taspen (Persero). Pahala mengatakan melalui optimalisasi aset yang dimiliki, banyak potensi yang bisa dikembangkan oleh subholding untuk mendukung bisnis induk usaha makin besar.

    "Semoga dengan kemitraan bersama INA dan Taspen, pengembangan kawasan industri terintegrasi melalui subholding ini dapat turut mendukung rencana pengembangan dan transformasi di Krakatau Steel, serta dapat mendukung ketahanan industri manufaktur untuk kemajuan industri baja nasional ke depannya," kata Pahala, Senin, 3 Mei 2021.

    Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim mengatakan kinerja dari keempat anak perusahaan yang tergabung dalam subholding ini mencatatkan penjualan sebesar Rp2,4 triliun dengan laba bersih sebesar Rp420 miliar pada 2020.

    Selain itu, EBITDA margin subholding mencapai sekitar 30 persen pada 2020, lebih tinggi dua kali lipat dibandingkan rata-rata industri yaitu sebesar 15 persen.

    Hingga April 2021, subholding membukukan laba bersih dan EBITDA masing-masing sebesar Rp153,3 miliar dan Rp344,6 miliar. Pencapaian tersebut melebihi target laba bersih dan EBITDA hingga April 2021, yaitu masing-masing sebesar Rp103,6 miliar dan Rp305,1 miliar. Hingga akhir tahun ini, subholding menargetkan laba bersih dan EBITDA sebesar Rp467,2 miliar dan Rp1,1 triliun.

    “Dengan catatan kinerja yang baik selama ini, kami meyakini di tahun 2021 subholding akan mampu mencapai pertumbuhan pendapatan dan EBITDA per tahun rata-rata sebesar 21 persen CAGR (Compound Annual Growth Rate)," kata Silmy.

    Pendapatan subholding pun diperkirakan tumbuh dari Rp2,5 triliun pada 2020 menjadi Rp6,6 triliun pada 2025, sedangkan EBITDA diprediksi tumbuh dari Rp798 miliar menjadi Rp2,0 triliun pada 2025.

    Jumlah total aset subholding per Desember 2020 mencapai sekitar Rp6,6 triliun, yang diperkirakan tumbuh secara CAGR sebesar 20 persen menjadi Rp16,5 triliun hingga 2025. Sementara, nilai ekuitas mencapai Rp4,7 triliun yang diperkirakan tumbuh rata-rata per tahun sebesar 23 persen CAGR menjadi Rp13,1 triliun pada periode yang sama.

    Silmy menambahkan, subholding ini juga disiapkan untuk fokus kepada pembangunan jangka panjang yang berkelanjutan di antaranya dengan mengembangkan beberapa proyek strategis yaitu Floating Sollar Cell (Pembangkit Listrik Tenaga Surya/PLTS Terapung) maupun proyek Sea Water Reverse Osmosis yang dapat menghasilkan kapasitas air bersih sebesar 1.000 liter per detik.  

    "Dengan pengalaman kami yang lebih dari 40 tahun melayani berbagai perusahaan manufaktur di kawasan industri serta dengan potensi yang kami miliki, kami yakin Subholding Sarana Infrastruktur Krakatau Steel ini ke depan akan mampu menjadi pemimpin di Asia Tenggara dalam memberikan pelayanan infrastruktur industri yang terintegrasi," pungkas Silmy.

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id