Indonesia Aman dari Pengenaan Bea Masuk Afrika Selatan

    Ilham wibowo - 15 Agustus 2020 18:00 WIB
    Indonesia Aman dari Pengenaan Bea Masuk Afrika Selatan
    Ilustrasi pembebasan bea masuk - - Foto: Medcom
    Jakarta: Indonesia memperoleh pengecualian dari pengenaan bea masuk tindakan pengamanan (safeguard) oleh Afrika Selatan (Afsel). Pengecualian tersebut atas produk fastener seperti baut pengencang.

    Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto mengungkapkan penyelidikan pada 2019 oleh Otoritas Afsel atas produk fastener impor baru saja rampung dan menempatkan Indonesia dalam daftar yang dikecualikan dari pengenaan safeguard.

    “Afsel sangat terusik dengan banjirnya produk dari Tiongkok. Karena itu, mereka gencar melindungi industri dalam negerinya melalui safeguard. Namun demikian, kita tentu tidak tinggal diam dan mengupayakan Indonesia lolos dari pengenaan safeguard,” ujar Agus melalui keterangan tertulisnya, Sabtu, 15 Agustus 2020.

    Tiap tahun sejak 2018, Afsel tidak pernah absen dalam penyelidikan safeguard produk fastener, masing-masing dengan cakupan HS yang berbeda. Sejak 1 Maret 2019, International Trade Administration Commission of South Africa (ITAC) selaku Otoritas Pengamanan Perdagangan Afsel melakukan penyelidikan atas permohonan South Africa Iron and Steel Institute (Petisioner).

    Penyelidikan tersebut berlangsung selama 17 bulan dan telah selesai dilakukan. Dalam laporannya, ITAC menemukan semua prasyarat pengenaan safeguard berupa lonjakan impor, kerugian material industri domestik, dan hubungan sebab akibat di antara keduanya. ITAC memutuskan memberlakukan safeguard berupa ad valorem duty selama tiga tahun.

    Afsel mengenakan bea masuk safeguard selama tiga tahun terhitung mulai 24 Juli 2020. Sesuai ketentuan WTO, tarif akan diliberalisasi memasuki tahun kedua dan tahun ketiga. Tarif tahun pertama ditetapkan sebesar 54,04 persen; lalu diliberalisasi menjadi 52,04 persen di tahun kedua; dan 50,04 persen pada tahun ketiga.


    Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Didi Sumedi menjelaskan bahwa pada awal penyelidikan, Indonesia ingin mendapat keistimewaan sebagai negara berkembang yang pangsa impornya di Afsel kurang dari tiga persen.

    “Sementara ini kita sudah mendapatkan apa yang kita minta ke Otoritas Afsel, tapi harus diwaspadai karena pengecualian Indonesia tidak permanen. Afsel akan terus mengamati pergerakan impornya. Indonesia bisa langsung dikenakan bea masuk safeguard jika dalam periode pengenaan terjadi lonjakan tajam impor dari Indonesia melampaui ambang batas tiga persen,” papar Didi.

    Direktur Pengamanan Perdagangan Pradnyawati menambahkan Indonesia dari awal bersikap kooperatif dan tidak menentang penyelidikan safeguard Afsel. Indonesia hanya berupaya agar mendapat pengecualian dari pengenaan safeguard.

    “Kita sudah hitung pangsa pasar kita di sana kurang dari tiga persen. Pada saat itu kita langsung meminta kepada Afsel supaya Indonesia dikecualikan dari pengenaan bea masuk safeguard jika penyelidikan ini selesai,” tutur Pradnyawati.

    Ekspor fastener Indonesia ke Afsel cukup stagnan dan cenderung turun. Pada 2017 nilai ekspornya mencapai USD766 ribu, lalu pada 2018 turun menjadi USD622 ribu, dan pada 2019 kembali meningkat menjadi USD 758 ribu. Sedangkan nilai ekspor pada paruh pertama 2020 hanya mencapai USD281 ribu, jauh di bawah nilai ekspor periode yang sama pada 2019 yang sebesar USD407 ribu.

    Dengan dikecualikannya Indonesia dari pengenaan tindakan safeguard ini, akses ekspor RI semakin terbuka  karena negara-negara pemasok utama Afsel seperti Tiongkok, India, dan Jerman menjadi tidak kompetitif.

    “Selama ini penjualan kita stagnan karena dominasi Tiongkok. Sekarang kita harus ambil peluang. Jika Tiongkok dan negara-negara eksportir utama fastener berhasil dibendung, maka Indonesia akan diuntungkan walaupun harus tetap berhati-hati dengan ambang batas tiga persen,” pungkas Pradnyawati.

    (Des)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id