Komitmen Pemerintah Stabilkan Harga Pangan Dipertanyakan

    Gervin Nathaniel Purba - 16 Mei 2020 14:32 WIB
    Komitmen Pemerintah Stabilkan Harga Pangan Dipertanyakan
    Harga gula pasir mencapai Rp20 ribu per kg di beberapa agen. (Foto: MI/ Fransiscus Carollio)
    Jakarta: Anggota Komisi IV DPR Andi Akmal Pasluddin mengritik jaminan pemerintah yang berjanji memberikan ketersediaan stok pangan dan kestabilan harganya hingga Lebaran. Kenyataannya, saat ini segala macam komoditas pangan mengalami kekacauan, baik ketersediaan stok dan harga di lapangan.

    Harga pangan yang mengalami kenaikan hampir di semua kebutuhan pokok seperti gula pasir, gula merah, beras, bawang merah dan telor. Padahal, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan stok bahan pangan aman dan harga bakal senantiasa stabil hingga Idulfitri.

    "Pemerintah ini lama-kelamaan semakin tidak dipercaya semua ucapan dan kebijakannya. Hari ini ngomong A, besok ngomong B. Mana ada rakyat percaya bila begini terus ke depannya. Bukan hanya harga pangan, kebijakan BPJS Kesehatan pun sama. Januari lalu iuran tetap, sekarang naik. Semua plin plan,” ujar Akmal, dikutip dpr.go.id, Sabtu, 16 Mei 2020.

    Politisi Fraksi PKS ini secara khusus menyoroti harga gula yang semakin lama semakin menggila. Kini harga gula pasir Rp20 ribu per kg di beberapa agen. Dapat dipastikan tingkat retail lebih tinggi. Selain itu, keberadaan gula pasir di pasar modern sudah semakin langka.

    Komoditas gula dinilai banyak sekali keanehan yang terjadi di negeri ini. Yang pertama, ada pengalihan 250 ribu ton gula yang seharusnya untuk industri makanan dan minuman menjadi gula konsumsi rumah tangga. Dari sini, menurutnya, sudah ada yang tidak beres dari kebijakan gula.

    Selanjutnya, terjadi lenyapnya 67 ribu ton gula rafinasi dalam waktu dua hari saja sejak diumumkannya ketersediaan gula rafinasi di produsen sebanyak 160 ribu ton oleh Kementerian Perdagangan, menjadi 93 ribu ton.

    "Pemerintah mesti tuntaskan dan mengusut persoalan gula ini. Keadaannya sudah sangat mengkhawatirkan. Harus dipastikan, ini persoalannya ada di manajemen pengelolaannya, atau ada segelintir oknum yang mencoba memburu rente dari buruknya keadaan," ujar Akmal.

    Akmal mengusulkan kepada pemerintah agar satu-persatu mengurai persoalan gula yang masih berpolemik dan cenderung merugikan rakyat banyak. Pertama usut tuntas berkaitan ketersediaan yang masih tersendat di berbagai daerah, apakah terkendala distribusi atau permainan spekulan.

    Kedua, harus ada tindakan nyata para pelaku amoral spekulan gula bila ditemukan menimbun yang mempermainkan stok di pasar. Ketiga, mesti ada solusi peningkatan produksi dalam negeri akan gula dengan perbaikan pola mitra dengan petani maupun perbaikan pabrik. Keempat perlunya ada edukasi masyarakat yang masuk dalam kurikulum pendidikan sejak dini akan bahaya konsumsi gula terlalu tinggi.

    "Saya minta persoalan pangan, terutama gula ini pemerintah serius mengurusinya untuk kepentingan rakyat. Jangan ada tebang pilih jika ditemukan penyelewengan. Tuntutan janji akan ketersediaan stok pangan serta harga pangan yang terkendali mesti dapat direalisasikan," katanya.

    Di sisi lain, kebijakan terkait gula terhadap importasi enam bulan terakhir sudah sesuai harapan. Importasi masih dalam batas kewajaran meskipun total izin impor gula mencapai 988,8 ribu ton.

    Dengan asumsi total konsumsi gula mencapai 230 hingga 250 ribu ton per bulan, pemerintah dari sisi produksi mesti mampu mengembalikan kekuatan komoditas gula nasional seperti pada 1930.

    (ROS)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id