RUU Cipta Kerja Ciptakan Peluang Baru di Masa Covid-19

    Eko Nordiansyah - 10 Juli 2020 20:38 WIB
    RUU Cipta Kerja Ciptakan Peluang Baru di Masa Covid-19
    Foto: dok MI.
    Jakarta: Rancangan Undang-Undang (RUU) Omnibus Law Cipta Kerja dinilai mampu menciptakan peluang baru bagi dunia usaha maupun tenaga kerja di masa pandemi covid-19. Peluang tersebut akan membantu percepatan pemulihan ekonomi nasional.

    "Dari sisi pekerja, saya melihat justru banyak peluang yang tercipta dari adanya RUU Cipta Kerja. Banyak sekali stimulus untuk siapapun yang ingin memulai wirausaha," kata pengamat komunikasi politik Universitas Pasundan Eki Baihaki dalam diskusi virtual 'RUU Cipta Kerja Kepastian Kerja dan Investasi', Jumat, 10 Juli 2020.

    Eki menjelaskan omnibus law tersebut memberikan kepastian misalnya terkait pemberdayaan, perlindungan UMKM, dan kemudahan berusaha. Hal ini bisa menjadi jalan keluar bagi karyawan yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) untuk memulai usaha. Apalagi pemerintah memberikan banyak stimulus bagi UMKM agar bertahan dari dampak pandemi.

    "Kalau hanya menggantungkan diri pada perusahaan, ini contoh pekerja yang menurut saya tidak merdeka. RUU Cipta Kerja ini memberikan kesempatan yang luas kok, jadi pekerja memang perlu melihat peluang yang muncul dan memanfaatkannya," ungkap dia.

    Pengamat administrasi publik Universitas Padjadjaran Muhammad Rizal menambahkan ekosistem ketenagakerjaan yang diatur dalam RUU Cipta Kerja, juga menjamin fleksibilitas bagi investor. Mereka akan lebih mudah masuk dan membuka lapangan kerja secara masif meski dihadapkan pada tantangan pandemi covid-19.

    "RUU Cipta Kerja jika nantinya disahkan punya fleksibilitas untuk mempertahankan, memperbaiki, dan bahkan menghapus norma lama serta menciptakan norma baru yang lebih ramah investasi. Ini sangat penting untuk segera dilakukan di Indonesia," katanya.

    Karena itu, RUU Cipta Kerja perlu segera disahkan agar menarik kembali investor yang tengah merelokasi bisnisnya dari negara lain. Apalagi sudah ada tujuh perusahaan asal Tiongkok yang menyatakan bersedia berinvestasi di Indonesia.

    "Kalau kita tidak mampu memberikan regulasi yang kompetitif dan menarik buat investor, sangat mungkin terjadi relokasi bisnis besar-besaran ke wilayah yang lebih kompetitif. Kalau masih di Indonesia ya mungkin masih oke, tapi kalau ke luar dari Indonesia kan tidak bagus juga," jelas Rizal.

    (AHL)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id