Ekspor Anggrek Sumbang Rp2,49 Triliun di 2019

    Ilham wibowo - 18 Juni 2020 15:26 WIB
    Ekspor Anggrek Sumbang Rp2,49 Triliun di 2019
    Anggrek memiliki nilai ekonomi tinggi di pasar dunia. Foto: Balitbangtan
    Jakarta: Anggrek jenis Cymbidium dan Paphiopedilum yang tumbuh subur di Indonesia dikenal memiliki nilai ekonomi tinggi di pasar dunia. Sepanjang 2019, nilai ekspor anggrek mencapai USD176 juta (senilai Rp2,49 triliun kurs Rp14.193) ke AS, Jepang, Belanda, Korea Selatan, Australia, Vietnam, Kanada, Britania, Brasil, dan Jerman.

    Kepala Badan Penelitian Pertanian (Balitbangtan) Fadjry Djufry mengatakan bahwa potensi anggrek yang dikembangkan di dalam negeri perlu terus dimaksimalkan dalam skala komersial.

    Adapun ketersediaan spesiesnya terdiri dari paphiopedilum kolopakingii, paphiopedilum gigantifolium cymbidium chloratum, cymbidium finlaysonianum, cymbidium ensifolium, cymbidium hartinahianum, hingga cymbidium biflorum.

    Menurut Fadjry, pihaknya selaku lembaga penghasil inovasi pertanian terus berkontribusi aktif dalam pengembangan inovasi baru anggrek Cymbidium dan Paphiopedilum. Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi) bahkan telah memproduksi varietas unggul anggrek dari hasil perakitan varietas dengan menggunakan sumber daya genetik yang tersedia, serta teknik perbanyakan massal melalui teknik kultur jaringan dan inovasi budidaya skala industri.

    "Balitbangtan telah lama melakukan penelitian terhadap berbagai spesies tanaman anggrek," kata Fadjry melalui keterangan tertulisnya, Kamis, 18 Juni 2020.

    Ia menyampaikan bahwa setidaknya sebanyak 43 ribu spesies anggrek di Indonesia telah diidentifikasi. Keanekaragaman anggrek spesies di Indonesia ini juga menjadi potensi sebagai induk silangan dan memungkinkan munculnya temuan anggrek varietas-varietas baru.

    "Diharapkan, hasil penelitian Balitbangtan ini bukan saja akan semakin memperkaya dan menambah keanekaragaman hayati anggrek di Indonesia, tetapi juga akan memberi keunggulan komparatif tersendiri atas komoditas anggrek indonesia yang bernilai ekonomis," ujarnya.

    Peneliti Balitbangtan, Sri Rianawati mengatakan pada 2019 Balitbangtan telah melepas tiga varietas Paphiopedilum dan lima varietas Cymbidium. Tiga varietas Paphiopedilum tersebut terdiri dari Mauredi Agrihorti, Tonsina Agrihorti, dan Rupini Agrihorti.

    Sementara varietas Cymbidium yang merupakan hybrid cymbidium terdiri dari Himucoda Agrihorti, Jenar Agrihorti, Tortilla Agrihorti, Mierra Agrihorti, dan Amara Agrihorti. Varietas-varietas tersebut memiliki keunggulan masing-masing terutama dari corak bunga dan ketegaran tanaman.

    Kepala Balithi Rudy Soehendi menambahkan langkah tepat perlu dilakukan agar dapat menembus pasar internasional dengan tingkat persaingan yang sangat ketat. Strategi bisa dilakukan dengan penyediaan varietas unggul baru (VUB), benih anggrek bermutu, dan teknologi budidaya inovatif.

    "Sehingga dapat menghasilkan produk yang berdaya saing dan diterima di kancah Internasional," ucapnya.  
     

    (DEV)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id