comscore

Ujung Tombak Transisi Energi

Desi Angriani - 21 Desember 2021 21:55 WIB
Ujung Tombak Transisi Energi
Ilustrasi pembangkit-pembangkit yang menjadi sumber emisi karbon - - Foto: dok Kementerian Keuangan
Jakarta: Salah satu ujung tombak keberhasilan transisi energi di Tanah Air berada di pundak PT PLN (Persero). Pasalnya, perusahaan setrum ini mengandalkan pembangkit yang bersumber dari batu bara untuk menerangi Sabang sampai Merauke.

Meski berbiaya murah dan mudah didapatkan, komoditas tersebut rupanya jadi penyumbang emisi karbon terbesar. Karena itu, pemanfaatan energi fosil harus ditekan demi menghindari kiamat ekologis yang sejatinya mengancam miliaran manusia.
Bukti kiamat ekologis ini mulai terjadi diberbagai belahan bumi seperti cuaca ekstrem, angin topan, badai tropis, banjir, longsor, hingga pemanasan global. Sebab itu, negara-negara di dunia mengangkat tema perubahan iklim hingga target emisi nol karbon atau net zero emission (NZE) dalam UN Climate Change Conference of the Parties (COP26) ke-26 di Glasgow, Skotlandia, beberapa waktu lalu.

Beranggotakan 197 negara, termasuk Indonesia, konferensi ini sepakat mengambil tindakan nyata untuk mengurangi emisi secara ambisius melalui transisi energi. Adapun tema pembahasan transisi energi kembali dilanjutkan dalam rangkaian Presidensi G20 2022.
 
Sebagai tuan rumah penyelenggara, Indonesia harus menyiapkan pilot project atau proyek percontohan bagi banyak negara. Karenanya pemerintah melalui Kementerian Keuangan dan Kementerian ESDM mengebut penyusunan skema transisi energi yang jelas dan ramah lingkungan, termasuk dari sisi pembiayaan.

Dalam Nationally Determined Contribution (NDC), Indonesia sendiri berkomitmen untuk mengurangi emisi CO2 sebesar 29 persen secara mandiri dan 41 persen dengan dukungan internasional.

Presiden Joko Widodo pun memberikan mandat kepada PLN dan Pertamina selaku pemegang andil paling besar dalam sektor energi untuk menyiapkan pondasi dan rancangan transisi energi ke depan. Di antaranya mempercepat pemanfaatan energi terbarukan melalui hydropower maupun geotermal. Pengembangan energi bersih ini, kata Presiden, dapat ditunjang dengan penggunaan kendaraan listrik dan kompor listrik.

"Rentang waktu yang masih ada ini gunakan untuk memperkuat fondasi menuju transisi energi. Transisi menuju energi hijau harus dan itu enggak bisa tawar-menawar. Cari teknologi yang paling murah yang mana. Siapa yang bisa mengambil peran secepatnya itu yang bisa mendapatkan keuntungan," kata Presiden kepada jajaran komisaris dan direksi PLN dan Pertamina di Istana Negara, Senin, 22 November 2021.

Dalam memenuhi mandat Kepala Negara, PLN menyusun peta jalan nol karbon 2060. Berbagai inovasi dilakukan baik dari sisi permintaan maupun suplai seperti pemberian stimulus listrik hingga memonetisasi pembangkit berbasis batu bara.

Kiat PLN kurangi emisi karbon dari sisi permintaan:

  • Insentif bagi pengguna kendaraan listrik berupa biaya penyambungan atau tambah daya listrik di rumah.
  • Diskon tarif listrik selama tujuh jam (pukul 22.00 hingga pukul 05.00), khusus untuk pengisian daya kendaraan listrik di rumah.
  • Membangun 67 Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang tersebar di seluruh Indonesia hingga akhir 2021.
"PLN siap sebagai penggerak dan pionir perubahan transportasi berbasis fosil menjadi berbasis energi bersih. Menggantikan kendaraan BBM dengan kendaraan listrik. PLN menyiapkan ekosistem sejak hari ini dan menggandeng mitra strategis mendukung penguatan ekosistem kendaraan listrik," ucap Mantan Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini dalam keterangan resminya, Senin, 1 November 2021.

Kiat PLN kurangi emisi karbon dari sisi suplai:

  • Melakukan monetisasi pembangkit berbasis batu bara secara bertahap hingga 2056 bersamaan dengan pembangunan pembangkit energi terbarukan (EBT).
  • Beberapa pembangkit yang sudah berjalan akan dikonversi dengan menggunakan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan.
  • Pencampuran biomassa ke PLTU batu bara atau co-firing hingga 2025. Program co-firing dapat berjalan di 52 lokasi PLTU dengan kapasitas 10,6 GW dan kebutuhan pelet biomassa sebanyak sembilan juta ton per tahun.
  • Menyiapkan skenario Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) dan diterapkan setelah 2035. CCUS merupakan teknologi alternatif yang dapat menjamin ketersediaan pasokan dengan relatif aman.
"PLN terus berinovasi dalam mengembangkan teknologi fuel cell dan hidrogen sebagai sumber energi yang murah, andal dan aman. Ke depan, EBT bukan hanya sebatas energi yang intermiten, melainkan sebagai pemikul beban dasar (base load) yang akan bersaing dengan energi fosil," tutur Zulkifli.

Ujung Tombak Transisi Energi
Ilustrasi program co-firing melalui pemanfaatan biomassa hutan tanaman energi, pelet sampah, dan limbah perkebunan atau pertanian sebagai subtitusi sebagian bahan bakar batu bara di PLTU - - Foto: dok PLN

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menambahkan produksi listrik RI pada 2060 diperkirakan mencapai 1.800 Tera Watt hours (TWh) atau melonjak dari 300 TWh. Artinya, masih ada kekurangan produksi sekitar 1.500 TWh yang dapat ditambal melalui penambahan kapasitas pembangkit EBT.

"Sehingga ada ruang 1.380 TWh untuk penambahan kapasitas pembangkit EBT. Mulai 2020 ke depan, porsi kapasitas PLTU diturunkan," ungkap Darmawan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR RI.

PLTU dipensiunkan

Indonesia Climate Transparency Report 2021 terbitan IESR mencatat 82 persen sektor pembangkit tenaga listrik Indonesia dikuasai oleh bahan bakar fosil. Dari jumlah itu, batubara mengambil porsi tertinggi atau sebanyak 63 persen dalam membangkit tenaga listrik.

Mengutip data Kementerian ESDM, kapasitas pembangkit listrik nasional mencapai 73.341 MW hingga Juni 2021. Dari komposisi tersebut, PLTU mendominasi sebesar 47 persen atau sekitar 34.856 MW. Disusul PLTG/GU/MG 20.938 MW (28 persen), PLTA/M/MH 6.255 MW (sembilan persen), PLTD 4.932 MW (tujuh persen), PLTP 2.174 MW (tiga persen), PLTU M/G 2.060 MW (tiga persen), dan PLT EBT lainnya 2.215 MW (tiga persen).

Dari sisi produksi listrik, realisasi volume PLTU hingga periode yang sama jauh besar sebesar, yaitu 65,30 persen atau membutuhkan batu bara sebesar 32,76 juta ton. Sisanya dipasok dari gas 17 persen (184.079 BBTU), Air 7,05 persen, Panas Bumi 5,61 persen, BBM 3,04 persen, BBN 0,31 persen, Biomassa 0,18 persen, Surya 0,04 persen dan EBT lainnya 0,14 persen.

Ujung Tombak Transisi Energi
Ilustrasi PLTU Pangkalan Susu Unit 3 dan Unit 4 kapasitas 2 x 210 MW - - Foto: dok PLN

Berdasarkan data tersebut, dapat dilihat pemanfaatan batu bara sebagai sumber pembangkit masih sangat tinggi. Wajar bila pemerintah membutuhkan Rp3.500 triliun untuk mempensiunkan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam webinar Pertamina: Energizing Your Future menilai sektor energi memakan biaya yang fantastis dalam operasionalnya. Namun, sektor ini memiliki peranan vital dalam menurunkan emisi karbon.

"Transisi menuju energi hijau akan membuat sejumlah pembangkit listrik dengan sumber energi batu bara berhenti beroperasi, sehingga terdapat biaya untuk penghentiannya," kata Sri Mulyani, Selasa, 7 Desember 2021.
 







Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id