comscore

Ujung Tombak Transisi Energi

Desi Angriani - 21 Desember 2021 21:55 WIB
Ujung Tombak Transisi Energi
Ilustrasi pembangkit-pembangkit yang menjadi sumber emisi karbon - - Foto: dok Kementerian Keuangan

Untuk mengejar target, PLN mulai menawarkan 21 proyek EBT berbasis hidro, surya dan biogas dengan total kapasitas sekitar 312 MW. Kemudian satu pabrik biodiesel berkapasitas 580 ribu kiloliter (kl) per tahun dan empat kontrak perjanjian proyek EBT berkapasitas total 14,5 MW.

Menteri ESDM Arifin Tasrif menyebut total investasi yang dibutuhkan dari serangkaian kegiatan tersebut akan mencapai USD3,9 miliar.

Berikut 21 proyek yang bakal ditawarkan:

  1. PLTA Kumbih-3 (45 MW) Lot Sipil.
  2. PLTA Kumbih-3 (45 MW) Lot Electro Mechanical.
  3. PLTA Hidro Sumatera Kuota Tersebar (90 MW).
  4. PLTA Sulbagsel Kuota Tersebar (200 MW).
  5. PLTA Bakaru II-Sipil (140 MW).
  6. PLTA Bakaru II-Electromechanical (140 MW).
  7. PLTM Jawa-Bali (15 MW).
  8. PLTP Ulumbu 5 dan Mataloko 2 & 3 berupa drilling contractor dengan kapasitas (40 MW).
  9. PLTP Ulumbu 5 dan Mataloko 2 & 3 berupa material supplier dan contractor (40 MW).
  10. PLTP Hululais 1 & 2 berkapasitas (110 MW).
  11. PLTP Tulehu 1 & 2 (20 MW).
  12. PLTP Sulbagut dengan kuota tersebar (lima MW).
  13. PLTP Songa Wayua (2X5 MW).
  14. PLTP Atadei (2X5 MW).
  15. PLTBio Simelue (tiga MW).
  16. PLTBio Seram (enam MW).
  17. PLTBm Halmahera (10 MW).
  18. PLTB Timor (2X11 MW).
  19. PLTS Sinabang (dua MW).
  20. PLTS Sumbawa-Bima (10 MW).
  21. Proyek konversi PLTD menjadi PLTS+BESS berkapasitas (500 MW).

Di luar 21 proyek itu, PLN telah berhasil mendapatkan pendanaan dari tiga bank internasional untuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Cirata.  PLTS terapung terbesar di Asia Tenggara itu meraih kucuran dana USD140 juta dari Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC), Societe Generale dan Standard Chartered Bank.
PLTS berkapasitas 145 MWAc tersebut akan beroperasi komersial (Commercial Operation Date/COD) pada November 2022. Nantinya PLTS Cirata akan dijalankan oleh PMSE (Pembangkitan Jawa Bali Masdar Solar Energi) yang merupakan Project Company hasil bentukan dari konsorsium cucu usaha PLN, yaitu PJBI dengan porsi saham 51 persen dengan perusahaan asal Uni Emirat Arab, Masdar dengan porsi saham 49 persen.

Di sisi lain, PLN juga mendapat dukungan pendanaan dari Badan Pembangunan Prancis (Agence Française de Développement/AFD) dalam mengakselerasi transisi energi pada proyek energi terbarukan dengan komitmen sebesar 500 juta euro untuk lima tahun ke depan.

EBT topang ketahanan energi nasional

Indonesia akan menjadi bangsa yang mandiri di bidang energi karena memiliki sumber energi yang melimpah, terutama yang berasal dari energi baru terbarukan (EBT). Diversifikasi sumber energi tersebut akan meningkatkan ketahanan energi nasional dalam jangka panjang.

Saat ini indeks ketahanan energi nasional  berada di angka 6,57. Angka itu masuk dalam kategori kondisi tahan yang berkisar antara 6-7,99. Pada 2015 indeks ketahanan energi berada di angka 6,16, 2016 (6,38), 2017 (6,40), 2018 (6,44), dan 2019 (6,44).

Hasil ini menunjukkan perkembangan indeks ketahanan energi Indonesia cenderung meningkat dan menuju ke tingkat kondisi yang sangat tahan. Adapun definisi ketahanan energi menurut PP Nomor 79 tentang Ketahanan Energi Nasional adalah suatu kondisi terjaminnya ketersediaan energi, akses masyarakat terhadap energi pada harga yang terjangkau dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan perlindungan terhadap lingkungan hidup

Berikut indikator ketahanan energi:

1. Aspek availability
Ketersediaan sumber energi dan energi baik dari domestik maupun luar negeri.

2. Aspek affordability
Keterjangkauan biaya investasi energi, mulai dari biaya eksplorasi, produksi dan distribusi, hingga keterjangkauan konsumen terhadap harga energi.
 
3. Aspek accessibility
Kemampuan untuk mengakses sumber energi, infrastruktur jaringan energi, termasuk tantangan geografis dan geopolitik.
 
4. Aspek acceptability
Penggunaan energi yang peduli lingkungan baik darat, laut dan udara, termasuk penerimaan masyarakat

"Terkait aspek acceptability, pengembangan energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia pada 2020 baru 11,2 persen. Namun angka ini sudah cukup meningkat dibandingkan 2015 yang sebesar empat persen,"  kata Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN) Djoko Siswanto dalam webinar bertajuk Sustaining Indonesia Energy Security and Accomplishing Net Zero Emission (NZE) Through Petroleum Engineering Technology & Education.

Djoko memaparkan dukungan pemerintah dalam mendorong transisi energi di Tanah Air meliputi regulasi harga gas sebesar USD6/MMBTU, Rancangan Undang-Undang tentang EBT, Rancangan Peraturan Presiden tentang Harga EBT. Kemudian penyusunan Rancangan Perpres Cadangan Penyangga Energi, zero flaring gas, Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN 2021-2030, dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap.

(Des)



Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id