3 Tantangan Transformasi Ketenagakerjaan Imbas Revolusi Industri 4.0

    Husen Miftahudin - 08 Oktober 2020 12:42 WIB
    3 Tantangan Transformasi Ketenagakerjaan Imbas Revolusi Industri 4.0
    Digital. Foto : Medcom.id.
    Jakarta: Produktivitas merupakan kunci keberhasilan pembangunan dan kesejahteraan suatu negara karena menjadi penggerak dalam peningkatan daya saing. Namun di era revolusi industri 4.0, peningkatan produktivitas juga perlu didorong ke arah digitalisasi, termasuk di lingkungan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

    Dirjen Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas (Binalattas) Kementerian Ketenagakerjaan Budi Hartawan mengatakan dengan adanya peningkatan produktivitas yang tajam, jumlah pendapatan juga akan semakin meningkat. Budi menyebut ada tiga tantangan transformasi ketenagakerjaan sebagai dampak revolusi industri 4.0.

    "Pertama skill transformation atau transformasi keterampilan. Kedua job transformation atau transformasi pekerjaan. Ketiga society transformation atau transformasi sosial," ujar Budi dalam rangkaian Karya Kreatif Indonesia (KKI) Seri 2 secara virtual, Kamis, 8 Oktober 2020.

    Untuk menghadapi tiga tantangan tersebut, diperlukan inovasi dalam penyiapan kompetensi tenaga kerja, regulasi ketenagakerjaan yang fleksibel, jaminan sosial terhadap peningkatan kompetensi, serta jaminan sosial terhadap pendapatan masyarakat.

    Menurut Budi, pelaku UMKM dalam mendorong peningkatan produktivitas dan daya saing untuk menghadapi era revolusi industri 4.0 harus tanggap menghadapi perubahan tren yang cepat. Tidak hanya di perubahan tren pasar, namun juga perkembangan teknologi.

    Upaya itu perlu dilakukan untuk mendongkrak kontribusi sektor UMKM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Adapun dalam lima tahun terakhir kontribusi sektor UMKM terhadap PDB meningkat menjadi 60,34 persen dari sebelumnya 57,84 persen.

    "Adopsi teknologi digital yang maksimum dapat mendorong UMKM untuk terus berinovasi menghadirkan produk barang dan jasa. Hal ini tentunya menjadikan transformasi digital bisnis UMKM semakin krusial dan patut untuk diperhatikan," tegasnya.

    Budi bilang pesatnya perkembangan teknologi telah mengubah perilaku masyarakat yang semakin mengarah ke digitalisasi. Terkait hal ini, setiap bisnis UMKM memiliki peluang dan kesempatan yang sama untuk terus bertumbuh.

    Namun di era digital saat ini, literasi dan tingkat adopsi teknologi akan menjadi penentu seberapa jauh bisnis dapat melangkah. Hanya saja, sebutnya, banyak UMKM di Indonesia masih relatif tertinggal dan belum siap untuk 'go digital'.

    "Oleh karena itu kami bersuara menyuarakan pentingnya memulai digital, karena melihat bahwa pemanfaatan teknologi dapat meningkatkan produktivitas dan meningkatkan daya saing UMKM Indonesia. Untuk mensukseskan UMKM di era revolusi industri 4.0 ini, tidak serta merta berupa ketersediaan akses internet dan kepekaan terhadap sosial media. Namun diperlukan juga peningkatan produktivitas dan daya saing dari sumber daya manusianya, harmonisasi aturan, dan lain sebagainya," tutup Budi.

    (SAW)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id