Ramalan SKK Migas: Candu Migas Justru Meningkat di Masa Transisi Ramah Lingkungan

    MetroTV - 25 November 2021 11:52 WIB
    Ramalan SKK Migas: Candu Migas Justru Meningkat di Masa Transisi Ramah Lingkungan
    Tangkapan layar Metro TV



    Jakarta: Volume kebutuhan minyak dan gas (migas) diperkirakan akan melonjak pada 2050 mendatang. Hal itu kemungkinan akan terjadi meski di tengah masa transisi ramah lingkungan

    Peningkatan produksi pun menjadi keharusan di tengah persaingan yang semakin ketat dalam mendapatkan modal. Ditambah, terjadinya transisi energi bersih.

     



    Kepala SKK Migas Dwi Sutjipto menyebut persentase penggunaan migas terhadap jumlah energi yang dibutuhkan memang akan menurun. Pada 2020, migas berkontribusi sebanyak 63 persen dan diperkirakan menurun menjadi 44 persen pada 2050. Namun, ternyata volume kebutuhan migas malah diperkirakan melonjak. 

    Volume kebutuhan minyak diperkirakan akan mencapai 3,97 juta barel per hari pada 2050. Angka tersebut melonjak sebesar 139 persen.

    Baca: Tren Energi Terbarukan, Pemerintah Diminta Tetap Utamakan Sektor Hulu Migas

    Volume kebutuhan terhadap gas bahkan dikatakan akan melonjak lebih tinggi lagi. Volume kebutuhan gas pada 2020 sebanyak 6.558 juta kaki kubik per hari (MMSCFD). Meningkat 298 persen menjadi 26.112 MMSCFD pada 2050.

    "Presentasi kontribusi migas terhadap jumlah energi yang dibutuhkan memang akan menurun dari 63 persen pada 2020 menjadi 44 persen pada 2050. Namun, secara volume kebutuhan minyak dan gas ini justru akan meningkat," kata Dwi dalam program Selamat Pagi Indonesia di Metro TV, Kamis, 25 November 2021.

    Menurut Deputi Perencanaan SKK Migas, Benny Lubiantara, peningkatan produksi migas kemudian menjadi keharusan. Mengingat kesenjangan antara konsumsi dan produksi migas semakin besar. Selain itu, tren investasi saat ini juga tengah menurun.

    Baca: Kepala SKK Migas: Kompetisi Industri Hulu Migas Semakin Ketat

    Benny menyebut saat ini persaingan untuk mendapatkan modal dengan mengandalkan sektor hulu migas semakin ketat. Apalagi dengan adanya transisi energi bersih tersebut.

    "Saingan untuk dapat kapital itu semakin berat karena akan bersaing dengan industri industri yang sifatnya low carbon. Skema low migas di industri hulu migas portofolio itu mungkin akan lebih menjadi prioritas. Tentu alokasi untuk kegiatan kegiatan di hulu migas akan semakin menurun, otomatis persaingan akan semakin meningkat," ujar Benny.

    Benny mengatakan daya tarik fiskal untuk investasi hulu migas akan semakin turun karena tidak cepat merespons dinamika global. Kemudian, persoalan finansial pun juga menjadi permasalahan lainnya.

    "Tantangan berikutnya terkait dengan financing karena untuk industri migas ke depan itu harus lebih green untuk bisa bersaing," kata Benny. (Widya Finola Ifani Putri)

    (UWA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id