Pentingnya Digitalisasi Sektor Pangan untuk Turunkan Biaya Produksi

    Antara - 12 Oktober 2021 15:08 WIB
    Pentingnya Digitalisasi Sektor Pangan untuk Turunkan Biaya Produksi
    Pangan. Foto : MI.



    Jakarta: PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) sebagai calon induk Holding BUMN Pangan mengungkapkan digitalisasi di sektor pangan sangat penting dalam menekan biaya produksi. Komisaris Independen PT RNI Marsudi Wahyu Kisworo menyampaikan pangan itu syaratnya pangan itu harus murah, terjangkau, namun produksinya juga harus efisien.

    "Maka dari itu cara kita untuk meningkatkan agar pangan menjadi terjangkau, satu-satunya cara adalah menekan biaya produksi atau cost dan menekan ongkos produksi adalah salah satu kehebatan dari digitalisasi, baik di sektor hulu misalnya ladang dan kebun, kemudian di bagian processing sampai ke distribusi, serta pengolahan hasil akhirnya," ujar Marsudi dikutip dari Antara, Selasa, 12 Oktober 2021.

     



    Penerapan teknologi digital, lanjutnya, mulai dari kecerdasan buatan, Internet of Things (IoT), machine learning, dan digitalisasi di semua sektor akan menurunkan biaya dan ketika biaya turun maka margin akan mengalami kenaikan.

    Ia juga mengatakan bahwa berbicara soal rantai pasok maka aliran barang bergerak mulai dari vendor seperti perkebunan, pertanian, peternakan dan pelabuhan (kalau impor), transportasi dan pergudangan sampai dengan ke tangan konsumen.

    Aliran barang dalam rantai pasok pangan bersifat satu arah, namun kalau melihat aliran informasinya maka sifatnya dua arah. Aliran informasi di rantai pasok pangan terjadi dari hulu sampai ke hilir dan begitu juga sebaliknya. Dahulu sebelum era digitalisasi terjadi di sektor pangan, kata dia, ini terjadi masalah karena informasi dalam rantai pasok pangan hanya mengikuti aliran barang. Jadi hanya dari arah hulu menuju hilir.

    "Sementara banyak sekali informasi yang diperlukan pada sektor hulu, misalnya berapa produksi garam yang harus dibuat, berapa stok daging yang harus diproduksi dan lokasinya ada di mana dan sebagainya. Ini merupakan informasi-informasi yang berada di bagian hilir namun tidak sampai ke hulu sehingga terjadilah masalah dalam distribusi pangan," kata Marsudi.

    Sebelumnya, pemerintah fokus pada pengembangan pertanian digital hingga pengolahan komoditas pertanian untuk memiliki nilai tambah dalam program pembangunan jangka menengah hingga 2024.

    Direktur Pangan dan Pertanian Bappenas Anang Noegroho mengatakan dua strategi besar pemerintah untuk sektor pertanian yang tertuang dalam RPJMN 2020-2024 yaitu meningkatkan ketersediaan akses dan kualitas konsumsi pangan serta meningkatkan nilai tambah, tenaga kerja, dan investasi di sektor riil dan industrialisasi.


    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id