Tingkatkan Efektivitas, Impor Gula Perlu Dibarengi Pembenahan Tata Niaga

    Suci Sedya Utami - 23 Mei 2021 18:11 WIB
    Tingkatkan Efektivitas, Impor Gula Perlu Dibarengi Pembenahan Tata Niaga
    Ilustrasi. Foto: MI/Susanto



    Jakarta: Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menilai untuk meningkatkan efektivitas impor gula, perlu diikuti pembenahan tata niaga. Selama ini impor gula terus dikritik lantaran tidak efektif dalam menurunkan harga gula di Tanah Air.

    Peneliti CIPS Arumdriya Murwani mengatakan, impor gula tidak bisa dilihat sebagai satu-satunya alat dalam mengatasi permasalahan gula di Indonesia. Tanpa adanya pembenahan tata niaga gula di dalam negeri, impor hanya akan bertindak sebagai solusi sementara yang efektivitasnya terus dipertanyakan.

     



    Menurut Arumdriya terdapat faktor-faktor lain yang juga berkontribusi pada rendahnya produksi gula dalam negeri, seperti laju konversi lahan pertanian dan rantai distribusi yang panjang juga berperan dalam mengurangi efektivitas impor gula.

    "Pemerintah perlu terus meningkatkan upaya untuk memperbaiki tata niaga gula, baik secara on-farm dan off-farm. Selain revitalisasi mesin dan pabrik gula, kebijakan-kebijakan yang dibuat juga perlu fokus pada pemenuhan kebutuhan gula di dalam negeri," kata Armdriya dalam keterangan resmi, Minggu, 23 Mei 2021.

    Ia bilang, regulasi impor perlu dibuat sesederhana mungkin dan memungkinkan impor dilakukan oleh pihak yang memiliki kompetensi dalam membaca kebutuhan pasar.

    Data United States Department of Agriculture (USDA) 2020 menunjukkan, Indonesia memproduksi 29,3 juta ton tebu yang digiling menjadi 2,1 juta ton gula untuk konsumsi selama periode Mei 2020 - Mei 2021. Indonesia harus mengimpor sekitar 5,2 juta ton gula untuk memenuhi konsumsi domestik yang mencapai 7,4 juta ton.

    Terus bertambahnya jumlah konsumsi gula di Tanah Air, salah satunya disebabkan oleh laju populasi penduduk yang tidak bisa diimbangi oleh kemampuan petani tebu dan pabrik gula. Hal ini lantaran rendahnya produksi gula di Indonesia yang disebabkan oleh umur fasilitas produksi gula tebu yang sudah tua.  Data USDA 2020 menunjukkan, sebanyak 40 dari 56 pabrik gula yang ada di Indonesia berusia lebih dari 100 tahun.

    Masalah lain penyebab rendahnya produksi gula adalah laju konversi lahan pertanian. USDA juga menyebut sebanyak 56 persen area panen tebu yang ada di Indonesia berlokasi di Jawa. Selain itu, pengembangan infrastruktur besar-besaran yang terjadi di Pulau Jawa pun berpotensi menurunkan luas area panen dan jumlah panen tebu setiap tahunnya.

    Arum menambahkan, ongkos logistik yang tinggi juga perlu menjadi perhatian. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2019 menunjukkan, rata-rata margin perdagangan dan pengangkutan di Indonesia adalah sebesar 33,18 persen. Tingginya margin perdagangan dan pengangkutan disebabkan oleh panjangnya rantai perdagangan bagi provinsi yang tidak menghasilkan gula.

    Sebagai contoh, Maluku harus mengimpor mayoritas gulanya dari Jawa Timur (99,96 persen) dan Nusa Tenggara Barat (0,04 persen) sehingga membuat margin perdagangan dan pengangkutan tertinggi yaitu sebesar 57.49 persen.

    Dari luar provinsi, gula harus melalui tiga mata rantai sebelum gula sampai di tangan konsumen, yaitu distributor, agen, dan pedagang eceran. Biaya logistik yang tinggi sekaligus panjangnya rantai perdagangan membuat harga gula di tingkat konsumen mengalami kenaikan yang cukup tinggi.

    Lebih jauh, belum tersedianya satu data tebu dan gula yang akurat juga menjadi tantangan. Selama ini, data yang diakses publik berbeda-beda antara satu instansi dengan instansi lain. Apabila data yang tidak akurat dijadikan dasar pengambilan kebijakan, lanjut Arum, maka kebijakan yang dihasilkan tidak akan mampu merespons permasalahan yang ada.

    "Pemerintah, terutama Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan, perlu untuk merumuskan metode pengumpulan data dan meningkatkan transparansi mengenai database yang dipakai untuk merumuskan kebijakan," jelas dia.

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id