Pertamina Alokasikan Rp116 Triliun untuk Pengembangan EBT

    Suci Sedya Utami - 14 Juli 2021 20:47 WIB
    Pertamina Alokasikan Rp116 Triliun untuk Pengembangan EBT
    Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati. Foto: MI/ Immanuel



    Jakarta: PT Pertamina (Persero) mengalokasikan belanja modal sebesar USD8 miliar atau setara Rp116 triliun untuk pengembangan portofolio Energi Baru Terbarukan (EBT) hingga 2024.

    Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan, jumlah tersebut sebesar sembilan persen dari total belanja modal perseroan yang sebesar USD92 miliar sepanjang 2020-2024.

     



    "Kita alokasikan sekitar sembilan persen untuk energi baru terbarukan," kata Nicke dalam Investor Daily Summit 2021, Rabu, 14 Juli 2021.

    Ia mengatakan besaran tersebut lebih tinggi dibandingkan benchmark portofolio perusahaan global lainnya yang hanya mengalokasikan empat persen dari total belanja modal yang disiapkan.

    Dirinya menjabarkan, dari besaran tersebut USD4 miliar akan dialokasikan untuk pipeline transportasi dan distribusi, USD0,3 miliar untuk unit likuifaksi dan regasifikasi, USD3 miliar untuk integrasi pembangkit listrik, dan sisanya USD0,7 miliar untuk kegiatan lainnya.

    Nicke menjabarkan beberapa pengembangan proyek yang terkait dengan portofolio bisnis EBT antara lain, pertama, menambah kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Panas bumi (PLTP) dari 672 megawatt (MW) di 2020 menjadi 1.128 MW di 2028.

    Kedua, pengembangan hidrogen dengan memanfaatkan lapangan panas bumi dengan total potensial 8.600 kilogram hidrogen per hari. Ia bilang konsumsi harian pada tahun ini mencapai 2,5 ribu ton per hari. Adapun besaran marketnya mencapai USD40 miliar.

    Ketiga, masuk ke bisnis electric vehicle battery dan energy storage sistem. Pertamina bersama PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan Inalum telah membentuk holding untuk masuk ke ekosistem baterai kendaraan listrik. Ditargetkan produksi baterai mencapai 140 GWh pada 2029.

    Keempat, gasifikasi di pembangkit mulut tambang yang mengubah batu bara menjadi dimethyl ether (DME) dengan kapasitas 1.000 ktpa.

    Kelima, kilang hijau atau green refinery dengan memanfaatkan kelapa sawit. Salah satunya yakni di Kilang Plaju. Nicke memastikan upaya konversi dari kilang existing menjadi kilang hijau sudah dilakukan pertamina. Sebagai tahapan awal, kilang hijau yang dapat langsung menghasilkan fuel dari kelapa sawit, alias green refinery yang bersifat stand alone akan dimulai di Plaju. Ia mengatakan kapasitas yang bisa diproduksi di green refinery mencapai 6-100 ktpa di 2025.

    "Akan optimalkan sawit yang banyak di Indonesia untuk jadi salah satu primary energy substitusi fuel untuk digunakan dalam transport maupun industri," tutur dia.

    Keenam, pengembangan bioenergy. Dalam pelaksanaannya, Pertamina bakal mengembangkan dua jenis bioenergi yakni yang bersifat campuran (blending) dan berdiri sendiri (stand alone). Ia bilang selain biodiesel Pertamina juga tengah mengembangkan bio gasoline.

    Pertamina telah menjajaki uji coba bersama Kementerian ESDM untuk implementasi bio gasoline. Langkah ini diharapkan bisa menekan impor gasoline. Terlebih pada 2030 ditargetkan impor gasoline sudah dapat disetop.

    Ketujuh, circular carbon energy yang merupakan upaya dekarbonisasi dengan penerapan teknologi dalam mengurangi emisi karbon. Terakhir yakni EBT dengan target produksi DME sebesar 5.200 ktpa yang akan onstream di 2025. Serta pembangkit listrik solar PV 4-910 MW, pembangkit listrik tenaga angin 225 MW, dan pembangkit listrik tenaga hidro 200-400 MW sepanjang 2020-2026.
     

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id