Pemerintah-BUMN Diminta Cari Terobosan Harga Rapid Test Terjangkau

    Al Abrar - 09 Juli 2020 16:37 WIB
    Pemerintah-BUMN Diminta Cari Terobosan Harga <i>Rapid Test</i> Terjangkau
    ilustrasi Medcom.id
    Jakarta: Pemerintah bersama Badan Usaha Milik Negara (BUMN) diminta bersinergi untuk mencari terobosan dalam pengadaan rapid test dan PCR yang mudah diakses dan terjangkau harganya bagi masyarakat. Sebab, hingga kini, biaya pemeriksaan covid-19 masih tergolong sangat mahal dan sangat memberatkan masyarakat.
     
    "Saat pandemi dan kondisi ekonomi seperti saat ini, tambahan biaya pemeriksaan rapid test dan PCR test sungguh sangat tidak masuk akal. Kita butuh ekonomi bergerak, tetapi malah harus mengeluarkan uang ekstra untuk pemeriksaan kesehatan, belum lagi bila mobilitas itu tidak terkait ekonomi seperti untuk sekolah, kuliah atau kebutuhan lainnya, ini sangat membebani rakyat," kata Anggota Komisi VI DPR Deddy Yevri Sitorus melalui keterangan tertulisnya, Kamis, 9 Juli 2020.
     
    Deddy menilai belum ada sinergi dan kolaborasi yang efektif antara pemerintah melalui Kementerian Kesehatan, Lembaga Penelitian, dan BUMN untuk menjamin ketersediaan rapid test dan PCR yang mudah diakses dan terjangkau harganya. Padahal, kata Deddy, Indonesia punya penduduk yang besar sehingga kebutuhan dan biaya yang dikeluarkan untuk kedua tes itu juga besar.
     
    "Semua terkesan jalan sendiri-sendiri, tidak terlihat kolaborasi dan pembagian tugas yang efektif," kata Deddy.
     
    Deddy juga merasa heran pemerintah bersama BUMN belum mampu memproduksi alat rapid test secara massal dan menyediakan kebutuhan alat tes PCR untuk kebutuhan semua rumah sakit, atau setidaknya rumah sakit rujukan di seluruh Indonesia.
     
    "Kalau masalahnya ketidakmampuan teknologi, harusnya BUMN bisa ditugaskan menjalin kerja sama dengan pihak swasta dan asing untuk membangun industri terkait covid-19 ini. Masa sih tidak ada asing yang mau bekerja sama membangun pabrik di Indonesia untuk kebutuhan kita, kebutuhan kita besar," ujar Deddy.
     
    "Apakah prinsipal asing tidak mau investasi di sini atau orang kita yang lebih suka impor untuk mendapatkan keuntungan secara maksimal? Bagi saya aneh saja kalau hingga saat ini untuk produksi masker, rapid test, dan PCR kita masih terus bergantung impor yang menggerus cadangan devisa," lanjutnya.
     
    Lebih jauh, Deddy mengatakan sebaiknya pemerintah dan lembaga penelitian fokus pada upaya menghasilkan vaksin dan obat untuk penyembuhan para penderita. Sementara BUMN fokus pada penyediaan alat rapid test dan tes PCR.
     
    Jika Indonesia bisa memproduksi alat-alat itu, kata Deddy, upaya pemutusan rantai penyebaran virus bisa dimaksimalkan dan roda ekonomi bisa dipacu lebih cepat. Banyak industri milik BUMN, yang terdampak covid-19 dan akan terbantu bila tersedia alat tes yang mudah dan murah.
     
    Deddy berharap pemerintah segera membuat road map yang jelas terkait masalah ini. "Jangan terus tergantung pada impor," ujarnya.

    (ALB)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id