Masyarakat Diminta Tetap Gunakan Masker di New Normal

    Medcom - 30 Juni 2020 10:23 WIB
    Masyarakat Diminta Tetap Gunakan Masker di New Normal
    Ilustrasi. FOTO: Medcom

    Jakarta: Di tengah pandemi covid-19, Pemerintah Indonesia telah menetapkan skenario new normal di berbagai lini dengan sebagian besar masyarakat sudah mulai menjalani rutinitas di luar rumah. Meski sudah memperbolehkan masyarakatnya beraktivitas di luar rumah, pemerintah tetap memberlakukan protokol kesehatan.

    Salah satu protokol kesehatan yang perlu diterapkan yakni penggunaan masker sebagai salah satu bentuk mencegah penularan covid-19. Pencegahan masker diyakini bisa meminimalisir tertularnya virus mematikan itu, sekaligus dengan harapan bisa memutus mata rantai penyebaran.

    VP Sales & Marketing Anteraja Andri Hidayat berharap kesadaran masyarakat bisa tumbuh akan pentingnya penggunaan masker sebagai salah satu pelindung diri dari covid-19. Pihaknya mendukung imbauan dan peraturan pemerintah terkait protokol kesehatan yang salah satunya menggunakan masker di saat new normal.

    Salah satu dukungan yang dilakukan adalah membagikan masker secara gratis. Program pembagian masker ini ditujukan bagi  masyarakat yang membutuhkan, terutama mereka yang masih sulit mendapatkan masker saat beraktivitas di luar rumah. Dengan adanya pembagian masker ini, dirinya  berharap, dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya penggunaan masker.

    “Dan secara tidak langsung mendukung pemerintah untuk menekan angka penyebaran covid-19. Masker yang dibagikan adalah masker bain non-medis yang dapat dicuci dan digunakan secara berulang,” ucapnya, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Selasa, 30 Juni 2020.

    Sementara itu, Presiden Joko Widodo menyebut ancaman krisis ekonomi global di tengah pandemi virus korona (covid-19) benar-benar nytta. Semua negara tengah merasakan kesusahan. 

    "Oleh sebab itu, dalam mengelola manajemen krisis ini rem dan gas ini harus betul-betul seimbang, tidak bisa kita gas di urusan ekonomi tetapi kesehatannya menjadi terabaikan," kata Jokowi.

    Jokowi menuturkan negara juga tidak bisa hanya konsentrasi penuh di urusan kesehatan. Ini bakal membuat ekonomi sangat terganggu. Dia menuturkan berdasarkan prediksi International Monetary Fund (IMF) Tahun 2020, perekenomian Amerika Serikat mencapai minus delapan persen. Kemudian, perekonomian Jepang diprediksi -5,8 persen dan Inggris -10,2 persen.

    "Prancis akan -12,5 persen, Italia akan -12,8 persen, Spanyol akan -12,8 persen, dan Jerman -7,5 persen," papar Jokowi.

    Kepala Negara menyebut kondisi ini akan mengganggu permintaan masyarakat terhadap barang. Suplai barang juga akan terganggu. Dia menuturkan ekonomi dunia berada di titik rendah. Kondisi ini lebih parah dibandingkan dengan krisis pada 1930.

    “Ini lah yang juga harus kita ketahui bersama bahwa kita dalam proses mengendalikan covid urusan kesehatan, tetapi kita juga memiliki masalah yang lain yaitu urusan ekonomi," pungkasnya.





    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id