Perusahaan Besar Turunkan Golongan, Rokok Murah Makin Marak

    Eko Nordiansyah - 19 April 2021 19:41 WIB
    Perusahaan Besar Turunkan Golongan, Rokok Murah Makin Marak
    Ilustrasi. Foto: Medcom.id



    Jakarta: Industri rokok kini mulai menghadapi tantangan akibat kenaikan tarif cukai hasil tembakau (CHT) 2021 sebesar 12,5 persen. Salah satunya adalah sebagian perusahaan besar yang tadinya ada di golongan 1 dengan produksi di atas tiga miliar batang, kini menurunkan produksinya di bawah tiga miliar batang.

    Sejumlah perusahaan besar seperti PT Nojorono Tobacco International (NTI) dan Korea Tomorrow & Global Corporation (KT&G) kini turun golongannya menjadi lebih rendah yakni di golongan 2. Penurunan disebut terjadi karena alasan produksinya yang turun






    "Produksi rokok kedua pabrikan tersebut sepanjang 2020 kurang dari tiga miliar batang," kata Direktur Teknis dan Fasilitas Cukai Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan Nirwala Dwi Heryanto kepada wartawan di Jakarta, Senin, 19 April 2021.

    Ia menambahkan, penyebab penurunan golongan ini terjadi karena turunnya permintaan atas merek rokok yang diproduksi kedua pabrikan itu. Kondisi ini, menurut dia, bisa disebabkan oleh penurunan daya beli masyarakat atau perubahan selera konsumen, atau alasan lainnya.

    Sementara itu, Peneliti Center of Human and Economic Development Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan (CHED ITB-AD) Adi Musharianto memandang tren penurunan golongan ini berdampak langsung pada meningkatnya peredaran rokok murah. Adi mencontohkan, selama selisih tarif cukai antara golongan 1 dan 2 untuk segmen sigaret kretek mesin (SKM) memang cukup besar.

    Dengan kondisi ini, ia mengungkapkan, perusahaan golongan 1 yang turun dapat menghemat biaya produksi dari pembelian cukai hingga 38 persen per batang rokok yang dijual. Selisih tarif cukai ini dapat dimanfaatkan oleh pabrikan untuk mendapatkan margin yang lebih besar, karena masih dapat memproduksi hingga tiga miliar batang rokok setahun.

    "Betul bahwa bisa terjadi pergeseran konsumsi ke rokok murah, dan salah satu motif perusahaan rokok turun golongan adalah meraih besaran harga jual eceran (HJE) dan tarif cukai hasil tembakau (CHT) yang dibayarkan kepada negara lebih murah. Dalam kondisi pandemi seperti ini harga murah tentu menjadi buruan bagi konsumen termasuk harga rokok," ungkap dia.

    Fenomena harga rokok menjadi semakin murah ini tentu sangat disayangkan karena berpotensi membuka akses bagi anak-anak untuk merokok. Padahal tujuan penetapan batas HJE dan CHT adalah untuk mengendalikan konsumsi rokok agar tidak terjangkau oleh rakyat miskin maupun anak-anak.

    "Namun apabila rokok dijual dengan harga murah tentu akan menghambat upaya pengendalian tembakau. Oleh karena itu, pengawasan harga rokok menjadi hal yang urgen yang harus dilakukan oleh pemerintah saat ini," lanjut dia.

    Saat ini banyak perusahaan yang menjual produknya dengan harga yang lebih murah dari harga banderol yang telah ditetapkan sesuai cukainya. Beberapa perusahaan rokok yang melakukan pelanggaran dengan menyunat harga transaksi pasar produk rokoknya hingga di bawah ketentuan batasan harga penjualan rokok yang sudah diatur oleh pemerintah dalam PMK 198/2020.

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id