Konsumen Keluhkan Hilangnya Stok Tahu dan Tempe di Pasaran

    Media Indonesia.com - 03 Januari 2021 17:29 WIB
    Konsumen Keluhkan Hilangnya Stok Tahu dan Tempe di Pasaran
    Ilustrasi. Foto: dok MI/Depi Gunawan.
    Jakarta: Konsumen di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, mengeluhkan hilangnya stok tahu dan tempe di lapak pedagang dalam dua hari terakhir imbas mogok produksi di kalangan perajin kedelai.

    "Sudah sejak tahun baru ini aja saya enggak ketemu lagi tahu dan tempe di pasar. Saya juga baru tahu hari ini kalau ada mogok kerja dari yang bikin (produsen)," kata salah satu konsumen tahu dan tempe, Nurohatun Hasanah, dikutip dari Mediaindonesia.com, Minggu, 3 Januari 2021.

    Wanita 48 tahun ini mengatakan dirinya membutuhkan 30 sampai dengan 40 kilogram tahu dan tempe untuk digoreng dan dijual di warteg kawasan Jatinegara, Jakarta Timur. Namun sejak komoditas berbahan baku kacang kedelai itu hilang dari pasaran, Nurohatun beralih menjual kentang goreng dan sayuran.

    "Ada yang lain, misalnya ada kentang sayuran yang lain, kalau enggak ada tahu tempe. Saya baru tahu kalau katanya kacang kedelai lagi susah," katanya.

    Dia berharap produsen kembali memasok tahu dan tempe sebab penggemar makanan tersebut cukup tinggi di warungnya. "Namanya orang Indonesia kan favoritnya tahu tempe. Seharusnya walaupun mahal harus diadain biarpun mahal," keluhnya.

    Konsumen lainnya Windy, 27, mengaku sudah dua hari terakhir tidak berjualan gorengan tempe dan tahu isi.

    "Saya sering beli di pasar. Biasanya buat dagang gorengan, tapi dari tahun baru enggak ada. Biasanya ada saja pedagang yang nyetok, tapi kemarin enggak ada sama sekali, yang antar juga enggak ada. Katanya kacangnya lagi mahal," katanya.

    Windy mengaku mengalami penurunan pendapatan hingga separuh dari biasanya sejak tahu dan tempe hilang dari pasaran. "Kalau jualan sih tetap, tapi kan saya enggak jual tahu dan tempe jadi pendapatan jadi turun sekitar setengahnya, karena dagangan enggak komplit," ungkapnya.

    Warga Pulogadung itu berpesan kepada produsen agar harga tahu tempe bisa stabil, namun kalaupun harus naik harganya tetap wajar dan bisa terjangkau.

    "Walaupun harganya naik, yang penting ada. Yang penting naiknya terjangkau. Pelanggan nanyain juga, padahal baru seminggu lalu toge gak ada di pasaran," jelasnya.

    Secara terpisah, Sekretaris Pusat Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Puskopti) DKI Jakarta Handoko Mulyo mengatakan ketiadaan tahu dan tempe di pasaran merupakan imbas dari bentuk protes terhadap kenaikan harga kedelai dari Rp7.200 menjadi R 9.200 per kilogram (kg).

    "Terhitung mulai 1-3 Januari 2021, kita stop produksi. Ada sekitar 5.000 pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) yang memproduksi tahu dan tempe, sepakat untuk mogok produksi," katanya.

    Dikatakan Handoko, setiap harinya produsen memasok kebutuhan tahu dan tempe di Jakarta sebanyak 500 hingga 600 ton.

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id