Tim Khusus Ahok Diminta Bongkar Semua Mafia Migas di Pertamina

    Husen Miftahudin - 05 Oktober 2020 20:52 WIB
    Tim Khusus Ahok Diminta Bongkar Semua Mafia Migas di Pertamina
    PT Pertamina (Persero). Foto: Dok. Pertamina.
    Jakarta: Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) Yusri Usman mendukung langkah Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang  membentuk tim khusus di Pertamina. Ia meyakini Ahok memiliki komitmen untuk menindak keberadaan oknum-oknum di Pertamina yang bisa berdampak negatif terhadap bisnis perseroan dalam jangka panjang.

    "Bisa jadi (tim khusus di Pertamina) untuk membongkar mafia migas, mafia proyek, dan mafia investasi," ungkap Yusri dalam keterangan tertulisnya, Senin, 5 Oktober 2020.

    Yusri mendorong agar tim khusus ini segera bekerja membongkar semua kejanggalan dalam proses tender proyek-proyek Pertamina. Misalnya, dugaan kejanggalan proses tender proyek pembangunan komplek olefin dan polyolefin di Tuban yang telah menguntungkan salah satu konsorsium dan merugikan konsorsium lain.

    "Tim khusus ini harus bisa membongkar dugaan adanya oknum-oknum tim tender sekaligus dalang yang mengarahkan mereka," tegasnya.

    Proyek Tuban Industries atau Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) Olefin Complex menjadi sorotan setelah lolosnya Hyundai Engineering dalam proses tender. Yusri Usman mencatat ada empat kejanggalan dalam proses tender proyek senilai Rp50 triliun ini.

    Keempat kejanggalan tersebut yakni Hyundai Engineering tidak pernah menggarap proyek Engineering, Procurement, and Construction. Kemudian anggota konsorsium Hyundai yaitu Saipem SpA tidak memiliki pengalaman proyek untuk pekerjaan FEED olefin cracker.

    Pertamina disebut mengubah isi prakualifikasi (PQ) dan mengizinkan penambahan anggota konsorsium setelah pengumuman kelulusan. Terakhir, technical evaluation criteria yang tidak diberikan kepada bidders.

    Yusri bilang salah memilih konsorsium kontraktor akan berakibat negatif pada membengkaknya biaya investasi, kualitas produk yang tidak maksimal, hingga volume produksi yang tidak optimal.

    "Kalau pembangunan kilang olefin di TPPI Tuban salah memilih konsorsium kontraktor EPC-nya, maka bisa terjadi BPP (Biaya Pokok Produksi) tinggi untuk semua jenis petrokimia. Kalau sudah tinggi BPP-nya, maka hasil produk kilang itu akan kalah bersaing dengan produk kilang swasta dan kilang olefin lain di luar negeri," pungkas Yusri.
     

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id