Dorong Larangan Iklan Rokok, Organisasi Anti Tembakau Dinilai Tak Memberi Solusi

    Eko Nordiansyah - 28 April 2021 20:05 WIB
    Dorong Larangan Iklan Rokok, Organisasi Anti Tembakau Dinilai Tak Memberi Solusi
    Ilustrasi. Foto: Medcom.id



    Jakarta: Berbagai organisasi anti tembakau yang mendorong upaya revisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 109/2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan dinilai tak memberikan solusi.

    Pengamat Kebijakan Publik Universitas Trisakti Jakarta Trubus Rahardiansyah mengatakan, dorongan larangan total iklan dan promosi rokok akan memukul semua lini Industri Hasil Tembakau (IHT), termasuk para petani tembakau yang jumlahnya sangat banyak.






    "Mereka ini tidak punya solusi. Pokoknya dilarang tetapi solusi bagi petani tembakau dan buruh rokok tidak ada. petani tembakau selama ini menjadi korban dari polemik mengenai IHT di tingkat elit," kata Trubus kepada wartawan di Jakarta, Rabu, 28 April 2021.

    Trubus menambahkan, aktivitas pertanian dari para petani tembakau ini sudah mereka lakukan secara turun-temurun. Menurut dia, para petani tembakau tidak dapat serta-merta beralih profesi ke pekerjaan lain yang bukan keahliannya.
     
    Selama ini, IHT merupakan salah satu sektor yang diatur dengan kebijakan yang sangat ketat. Selain PP 109/2012, beberapa aturan yang cenderung melemahkan antara lain, kenaikan tarif cukai dan pemberlakuan kawasan tanpa rokok (KTR) di sejumlah daerah.

    Ia menyebut, ada beberapa alasan yang membuat revisi PP 109/2012 tidak relevan dilakukan. Pertama, pemerintah sedang memiliki fokus yang lebih penting, yakni penanganan pandemi covid-19 yang sampai saat ini belum juga berakhir.

    "Fokus ke pandemi dulu yang masih tinggi dibanding revisi PP 109/2012, yang sekarang hanya mengundang pro-kontra, sehingga tidak menjadi bumerang," ungkapnya.
     
    Kedua, pemerintah sedang mendorong investasi dan masuknya modal untuk mendongkrak ekonomi. Dengan investasi di sektor IHT yang sangat besar, sehingga goncangan terhadap industri ini akan mengganggu stabilitas ekonomi dan menambah pengangguran.

    Ketiga, terkait kebijakan keuangan negara. Selama ini, IHT telah memberikan kontribusi yang sangat besar yaitu lebih dari 60 persen kepada penerimaan. Revisi dinilai akan memicu maraknya rokok ilegal yang sama sekali tidak berkontribusi terhadap APBN.
     
    Trubus mengungkapkan, IHT perlu diberi kesempatan bertahan dengan cara memperbaiki tata kelola agar tak menghasilkan produk yang merugikan. Hal ini juga membutuhkan kontribusi semua pihak untuk turut mengendalikan dampak secara seimbang.

    "Penelitian banyak ditunggangi dan dibiayai mereka yang anti rokok. Seharusnya pemerintah turun tangan membuat aturan dan kebijakan yang proporsional, jangan sampai banyak rokok ilegal dimana negara tidak mendapat pemasukan," tegas Trubus.
     
    Ketua Pengurus Federasi Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan Minuman Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (FSP-RTMM-SPSI) Daerah Istimewa Yogyakarta Waljid Budi Lestarianto sebelumnya menyatakan, revisi PP ini akan membuat kinerja IHT semakin menurun.

    Ia mengatakan, revisi beleid ini juga akan memicu gelombang pengangguran di sektor IHT. Apalagi saat ini IHT harus menghadapi tekanan pasar akibat penurunan daya beli dan perlambatan ekonomi seiring pandemi covid-19 yang belum berakhir.

    "Polemik wacana revisi PP 109/2012 terus-menerus dipolitisasi tanpa kejelasan dan ironisnya tidak pernah ada upaya melibatkan para pemangku kepentingan dalam proses penyusunan kebijakan padahal syarat tersebut telah diamanahkan dalam peraturan dan perundang-undangan," pungkasnya.


     

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id