Utang PLN Dinilai Lebih Banyak untuk Investasi

    Eko Nordiansyah - 15 Juni 2021 13:00 WIB
    Utang PLN Dinilai Lebih Banyak untuk Investasi
    Ilustrasi. Foto: Dok. PLN



    Jakarta: PT PLN (Persero) mencatat posisi utang kena bunga (interest bearing debt) pada akhir 2020 sebesar Rp452,4 triliun. Jumlah ini diklaim turun dibandingkan posisi di akhir 2019. Bahkan hingga April 2021 kembali menurun menjadi Rp448,6 triliun.

    Ekonom senior Faisal Basri menilai, PLN mengelola utangnya dengan baik. Peningkatan jumlah utang PLN jauh di bawah investasi dan nilai aset BUMN itu. Bahkan hanya sebagian kecil dari utang PLN yang digunakan untuk menjaga arus kasnya.

     



    "Utang PLN tidak dipakai untuk foya-foya. Hampir semua dipakai untuk investasi. Hanya sebagian kecil untuk menjaga cash flow (arus kas)," kata Faisal kepada wartawan di Jakarta, Selasa, 15 Juni 2021.

    Selama periode 2015-2020, Faisal menyebut PLN mencatatkan penambahan utang sebesar Rp199 triliun. Sebaliknya, nilai investasi PLN pada periode yang sama mencapai Rp448 triliun, atau lebih banyak dibanding keseluruhan penambahan utang PLN.

    Investasi PLN antara lain penambahan aset pembangkit total 10 ribu megawatt, transmisi sepanjang 23 ribu kilometer sirkuit, dan gardu induk total 84 ribu MvA. Selain itu, PLN meningkatkan rasio elektrifikasi dari 88,3 persen menjadi 99,2 persen.

    "PLN ini BUMN aset terbesar, sampai April 2021 mencapai Rp1.599,5 triliun. Harus kita jaga bersama-sama. Tidak ada BUMN lain dengan aset sebesar ini," ungkap Faisal.

    Faisal menambahkan, investasi PLN yang lebih besar dari utang karena sumber dananya tidak hanya pinjaman. Sebagian investasi PLN didanai dari kas internal karena PLN masih mencatat keuntungan ditambah dengan penambahan modal.

    Ia salut dengan tata kelola keuangan PLN yang tetap untung meski harga listrik tidak naik sejak 2017. Padahal, sumber pendapatan PLN hanya dari menjual daya. Pendapatan PLN naik karena jumlah pelanggan bertambah dari 61 juta menjadi 79 juta.

    "Meski menambah pendapatan, peningkatan pelanggan juga menaikkan biaya produksi. Sebab, semakin banyak pelanggan harus dilayani. Penyambungan kabel, penyediaan energi primer, semua butuh biaya," pungkas dia.

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id