2030 Indonesia Tak Lagi Impor Bensin

    Suci Sedya Utami - 25 Januari 2021 07:09 WIB
    2030 Indonesia Tak Lagi Impor Bensin
    Foto: Grafis Medcom.id



    Jakarta: Pemerintah memperkirakan Indonesia akan terbebas dari impor Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis gasoline atau bensin pada 2030. Hal ini sejalan dengan diselesaikan seluruh proyek kilang PT Pertamina (Persero).

    Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN) Djoko Siswanto mengatakan pemerintah terus mendorong upaya untuk menekan impor dan meningkatkan produksi bensin di dalam negeri. Dengan cara pengembangan empat kilang existing dan pembangunan satu kilang baru, program Bahan Bakar Gas (BBG), Bahan Bakar Nabati (BBN), dan Kendaraan bermotor Listrik Berbasis Baterai (KLBB).






    Ia mengatakan jika tanpa upaya tersebut, maka impor masih akan terus membesar untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri. Dalam Grand Strategi Energi Nasional (GSEN), kebutuhan BBM domestik diproyeksikan akan meningkat dari 1,13 juta barel per hari (bph) di 2020 menjadi 1,36 juta bph di 2025, 1,55 juta bph di 2030, dan mencapai 1,98 juta bphdi 2040. Dari seluruh kebutuhan tersebut, impor bensin yang masih dibutuhkan sebesar 194 ribu bph di 2025.

    "Kita masih akan impor kalau tidak ada program BBG, KBLBB, biofuel, dan bangun kilang,” kata Djoko dalam webinar Indonesia Refinary Outlook, seperti dilansir dari YouTube Petromindo TV, Minggu, 24 Januari 2021.

    Mantan Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM ini mengatakan, kendati masih impor di 2025, namun impornya berkurang 290 ribu bph karena adanya tambahan produksi dari kilang dalam negeri. Demikian juga di 2030-2040 akan ada tambahan dari kilang yang bakal menggerus impor hingga 532 ribu bph.

    Sementara itu, Vice President Strategic Planning PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Prayitno mengatakan perseroan berupaya untuk menuntaskan proyek kilang baik revitalisasi (Refinary Development Master Plan/RDMP) maupun pembangunan baru (grassroot refinary/GRR) sehingga bisa memproduksi bensin untuk memenuhi kebutuhan nasional.

    Misalnya Kilang Dumai di Riau yang difokuskan untuk meningkatkan produksi gasoline dam morning kualitas setara Euro V. Begitu juga dengan Kilang Plaju, Cilacap, Balikpapan, dan Balongan. Dalam pembangunan kilang ini, Pertamina juga mengembangkan produksi bahan bakar hijau (biorefinary).

    Di Kilang Cilacap akan dikembangkan dan memodifikasi agar dapat mengolah minyak sawit. Proyek Kilang Cilacap masih pada tahap pengerjaan desain rekayasa dasar (basic engineering design/BED) Diesel Hydrotreating Unit (DHT) dan Pre-FS. Kilang Cilacap juga dijadwalkan beroperasi di 2027.

    Di Kilang Plaju akan dibangun kilang hijau (green refinery) baru dengan kapasitas 20 ribu bph. Kilang Plaju dan Kilang Fumai saat ini masih dalam proses penyelesaian prastudikelayakan (pre fesibility study/Pre-FS) dan ditargetkan beroperasi pada 2027.

    Sementara untuk Kilang Balikpapan Fase I telah masuk tahap konstruksi dan ditargetkan selesai di 2023. "Kemudian Fase II itu 2025 untuk estimasi onstream (operasi)," kata Prayitno.

    Selanjutnya, Kilang Balongan ditargetkan beroperasi di 2022. Adapun Kilang Tuban akan mulai operasi di 2026.

    Dirinya menambahkan setalah proyek kilang rampung, kapasitas pengolahan minyak mentah kilang domestik akan naikdari 988 ribu bph menjadi 1,11 juta bph. Selanjutnya, produksi bensin akanmeningkat dua kali lipat dari saat ini 217 ribu bph menjadi 461 ribu bph dansolar dari 358 ribu bph menjadi 370 ribu bph.

    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id