UMKM Jamu Diyakini Menggeliat di Era New Normal

    Whisnu Mardiansyah - 30 Mei 2020 01:57 WIB
    UMKM Jamu Diyakini Menggeliat di Era New Normal
    Ilustrasi jamu. MI/Fransisco Carollio
    Jakarta: Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM) diyakini bisa bangkit saat penerapan kenormalan baru (new normal). Pasalnya, industri jamu berbasis lokal dengan bahan baku tersedia di dalam negeri dan dapat meningkatkan imunitas tubuh.

    "Jamu ini saya pikir penting untuk lebih diperhatikan dan diseriusi," kata mantan Wakil Gunernur DKI Jakarta Sandiaga Salahuddin Uno di Jakarta, Jumat, 29 Mei 2020.

    Pria yang juga berprofesi sebagai pengusaha itu mengatakan, prospek bisnis jamu sangat menjanjikan di era gaya hidup new normal. Sebab, masyarakat akan memprioritaskan gaya hidup sehat.

    "Pola penanganan kesehatan pun berubah, dari rehabilitative kuratif menjadi promotif preventif. Sehingga bisnis yang terkait upaya pencegahan (dari penyakit) akan tumbuh, seperti masker, vitamin, termasuk jamu," jelas dia.

    Di sisi lain, Sandi miris melihat pemerintah masih impor obat-obatan termasuk vitamin dari luar. Padahal, jamu tak kalah bagus khasiatnya dengan suplemen vitamin produk impor.

    "Kok kita enggak pernah belajar dari bisnis, kita kayak enggak mampu ciptakan kasih solusi. Masa vitamin saja impor. Kenapa enggak kembangkan industri jamu?" ucap Sandi.

    Padahal, terang Sandi, jamu merupakan antibiotik dan antioksidan terbaik. Bahan-bahan jamu tersebar dan mudah didapatkan, seperti temulawak hingga kunyit.

    "Kita ada temulawak, jahe, kunyit, ini saya kemarin belajar bikin jamu. Nah jamu ini the best antibiotic dan antioksidan di alam Indonesia sendiri. Kenapa enggak kita riset bagus, dan kita buat sendiri," kata dia.

    Baca: Pengusaha Beradaptasi dengan Kenormalan Baru

    Dia mendorong investor tak hanya memikirkan keuntungan. Investor harus juga memikirkan kelangsungan usaha dalam negeri agar bisa bangkit dan mambantu perekonomian nasional.

    Menurut Sandi, investasi harus bisa mendorong secara masif produksi dalam negeri. Terlebih, Indonesia masih bergantung pada bahan impor.

    "Bisa ciptakan lapangan kerja juga. Lalu ingat, kita masih banyak produk bergantung ke pasar luar negeri. Kesempatan ada, maka kita harus investasi, kuatkan sisi produksi, pangan, dan industri. Sehingga kalau ada krisis kita bisa kuat dan sanggup menahan gejolak," jelas Sandi.

    Sandi yakin industri jamu bisa menjadi kekuatan ekonomi nasional. Jamu sudah menjadi bagian kebudayaan dan kearifan lokal. Pengembangan industri jamu akan meningkatkan ekonomi lokal daripada mengandalkan impor suplemen vitamin impor.

    Jamu diyakini bisa dikembangkan menjadi produk andalan ekonomi nasional yang dapat diekspor ke berbagai negara. Menurut dia, omzet UMKM akan meningkat dengan berbisnis jamu.

    Dia mencontohkan seorang pengusaha UMKM jamu empon-empon. Omzetnya mencapai Rp100 juta per bulan selama masa pandemi covid-19 dari biasanya hanya Rp20 juta per bulan.

    ”Kemudian saya kenal Pak Budi, pengusaha susu jahe di Jaksel, omzetnya juga naik 3-4 kali lipat,” ujar dia. 



    (AZF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id