Bangun Infrastruktur Kelistrikan, PLN Diguyur Pinjaman Perbankan Rp12 Triliun

    Suci Sedya Utami - 04 Desember 2020 20:23 WIB
    Bangun Infrastruktur Kelistrikan, PLN Diguyur Pinjaman Perbankan Rp12 Triliun
    Foto: dok MI.
    Jakarta: PT PLN (Persero) mendapatkan pinjaman atau kredit investasi dengan plafon sebesar Rp12 triliun dari perbankan untuk mendanai pembangunan proyek infrastruktur di sektor ketenagalistrikan di Tanah Air. Kredit investasi tersebut memiliki tenor lima dan 10 tahun.

    Perjanjian kredit investasi tersebut diperoleh melalui tiga skema yaitu skema sindikasi konvensional sebesar Rp8,8 triliun, skema sindikasi syariah sebesar Rp1,2 triliun, dan skema bilateral konvensional sebesar Rp2 triliun.

    Untuk skema konvensional berasal dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Central Asia Tbk, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, dan PT BPD Jawa Barat dan Banten Tbk. Sementara skema sindikasi syariah antara lain PT Bank Syariah Mandiri dan PT BCA Syariah. Sedangkan skema bilateral konvensional berasal dari PT Bank CIMB Niaga Tbk.

    "Terlaksananya penandatanganan perjanjian kredit investasi ini menjadi salah satu bukti nyata dukungan serta kepercayaan dari lembaga keuangan bank nasional untuk dapat memenuhi rencana investasi PLN yang hingga saat ini masih termuat dalam (RUPTL) PLN 2019-2028 yang telah ditetapkan oleh Menteri ESDM," kata Direktur Keuangan PLN Sinthya Roesly dalam keterangan resmi, Jumat, 4 Desember 2020.

    Sinthya mengatakan, melalui RUPTL, Kementerian ESDM terus mendorong pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan khususnya pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) dengan target penambahan sebesar 16.714 megawatt (mw) untuk mencapai target bauran minimum 23 persen pada 2025 dan seterusnya.

    Ia bilang Pemerintah terus mendorong penggunaan teknologi pembangkit yang ramah lingkungan, dengan mendorong penerapan teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Clean Coal Technology (CCT). Sementara itu, bauran gas dijaga sebesar minimum 22 persen pada tahun 2025 dan seterusnya guna mendukung integrasi pembangkit EBT yang bersifat intermittent.

    Meskipun di tengah kondisi pandemi, PLN berkomitmen untuk terus menjaga keandalan pasokan listrik, mutu layanan dan berupaya meningkatkan aksesibilitas masyarakat untuk mendapatkan listrik khususnya di wilayah pedesaan dan daerah terpencil tersebar diberbagai pelosok negeri.

    Sinthya mengatakan investasi ini juga akan digunakan untuk membiayai pengembangan listrik pedesaan (lisdes) dan pengembangan sistem kecil tersebar (daerah isolated). Pada program listrik pedesaan, selain melistriki desa lama (desa yang sudah memiliki infrastruktur listrik namun belum seluruh penduduknya memperoleh listrik), PLN dan pemerintah juga akan melistriki desa-desa terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

    "Penandatanganan sindikasi kredit dari perbankan nasional ini merupakan bukti upaya PLN untuk terus menyelesaikan Percepatan Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan Nasional sebagaimana mandat dari Pemerintah," jelas Sinthya.

    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id