Pasokan Batu Bara Terkendala, Begini Strategi Pemerintah agar Listrik Tak Padam

    Suci Sedya Utami - 27 Januari 2021 18:45 WIB
    Pasokan Batu Bara Terkendala, Begini Strategi Pemerintah agar Listrik Tak Padam
    Ilustrasi. Foto: Medcom.id/Awaluddin



    Jakarta: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan tidak akan ada pemadaman listrik yang diakibatkan oleh kurangnya pasokan energi primer batu bara sebagai bahan bakar pembangkit.

    Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Rida Mulyana mengatakan, jaminan listrik ini dipastikan tidak padam bahkan hingga Februari 2021.




    "Enggak ada pemadaman InsyaAllah sampai 31 Januari, enggak ada kekurangan pasokan listrik. Februari PLN perlu tambahan 1,2 juta ton batu bara, sudah dijelaskan Pak Ridwan (Direktur Jenderal Minerba) dari sisi pasokan melebihi, DMO komitmennya tinggi juga yakin di Februari tidak akan sampai krisis, listrik nyala terus kita upayakan," kata Rida dalam jumpa pers virtual, Rabu, 27 Januari 2021.

    Rida menjelaskan dalam menjamin tidak ada potensi pemadaman, pemerintah melakukan enam upaya sebagai strategi dalam menghadapi keterlambatan pasokan batu bara.

    Pertama, menjaga reliabilitas pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Kedua, meminta produsen listrik swasta (IPP) yang stok batu baranya lebih besar dari PLN. IPP memiliki ketahanan stok operasi 25-30 hari dibandingkan PLN yang di bawah 15 hari.

    Ketiga, optimasi stok. Keempat, apabila kondisi tidak berubah dan stok batu bara baru tidak kunjung datang serta pasokan di pembangkit makin berkurang, maka energi primer yang akan diandalkan selanjutnya yakni gas.

    Apabila gasnya yang digunakan sudah maksimum namun masih tetap kurang, maka opsi terakhir untuk memenuhi kebutuhan energi primer yakni menggunakan BBM.

    "BBM itu (cost-nya) paling mahal dan akan mempengaruhi BPP (biaya pokok penyediaan listrik)," tutur Rida.

    Kelima, menyarankan agar pengangkutan batu bara menggunakan kapal besar, bukan kapal tongkang. Kapal besar bisa memuat 60-62 ribu ton batu bara, sedangkan tongkang hanya 7.000.

    Dengan menggunakan kapal besar, maka batu bara tidak akan terkena hujan, sementara tongkang tidak memiliki tutup sehingga batu bara akan basah jika hujan. Namun kata Rida, tidak semua pelabuhan yang dituju bisa disandari oleh kapal.

    Keenam, menggeser atau menjadwal ulang waktu perawatan pembangkit. Misalnya, apabila ada jadwal perawatan di bulan-bulan ini, maka dipindah ke semester kedua demi memastikan pasokan listrik tidak berkurang.

    Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Minerba Ridwan Djamaluddin menambahkan 54 perusahaan batu bara telah berkomitmen untuk memenuhi kewajiban memasok ke PLN.

    "Dalam rapat terakhir kemarin saya sudah tanya pasokan per hari kemarin tersedia untuk berapa hari, dijawab oleh Direktur Energi Primer PLN sampai saat ini minimal tersedia lima hari," tandas Ridwan.
     

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id