Kebijakan Harga Gas Industri Bisa Rugikan Investor PGN

    Antara - 13 April 2021 19:02 WIB
    Kebijakan Harga Gas Industri Bisa Rugikan Investor PGN
    PGN. Foto : MI.



    Jakarta: Analis pasar modal menilai kinerja PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) yang memburuk selama 2020 selain dari penurunan konsumsi gas akibat pandemi covid-19 juga dipengaruhi kebijakan penetapan harga gas bumi enam dolar AS per MMBTU kepada industri tertentu sejak April 2020.

    "Masuk akal jika kerugian PGN akibat harga gas USD6 per MMBTU bisa mencapai USD100 juta. Karena mayoritas pengguna gas PGN adalah penerima manfaat harga gas itu. Sementara pemerintah tidak memberikan insentif ataupun subsidi sesuai yang diamanatkan dalam regulasi. Situasi sangat merugikan PGN, termasuk investornya di pasar modal," jelas analis pasar modal dari Finvesol Consulting Fendi Susiyanto, dikutip dari Antara, Selasa, 13 April 2021.






    Fendi mengatakan dari kaca mata investor, salah satu hal penting yang menjadi dasar untuk mengambil keputusan investasi saham adalah melihat model bisnis (business model) dengan potensi margin yang menguntungkan. Hal itu menjadi faktor pendorong nilai perusahaan akan meningkat jangka panjang.

    Secara model bisnis, lanjut Fendi, PGN sebenarnya merupakan emiten dengan fundamental dan prospek bisnis yang menarik. Sebagai inisiator dan pengembang infrastruktur gas bumi, PGN saat ini menguasai lebih dari 80 persen jaringan gas bumi di seluruh Indonesia. Namun dari total produksi gas nasional sebanyak 6.889 BBTUD, PGN mentransportasikan gas sebesar 1.930 BBTUD, sekitar 28 persen dan baru mengalirkan niaga gas sekitar 900 BBTUD atau sekitar 15 persen.

    Sayangnya sebagai anak usaha BUMN, PGN mendapatkan perlakuan berbeda dibandingkan BUMN. Dengan komponen harga jual dipatok USD6, sementara komponen biaya realitasnya lebih tinggi. Tanpa memperoleh subsidi maka kerugian sulit untuk dihindari.

    Fendi mencontohkan perlakuan berbeda pemerintah terhadap PT PLN (Persero) yang mendapatkan subsidi listrik. Bahkan, sejak 2015 beberapa BUMN konstruksi mendapatkan suntikan dana melalui penyertaan modal negara (PMN) untuk mengembangkan berbagai infrastruktur. Sementara kepada PGN, yang selama ini mengembangkan infrastruktur gas bumi sebagai energi untuk mengurangi energi impor, tak ada bantuan dari pemerintah.

    Menurut Fendi, jika alasannya sebagian saham PGN dimiliki asing, hal itu tidak masuk akal. Dikotomi asing dan nonasing ini tidak positif untuk mendorong pasar modal Indonesia semakin atraktif. Karena banyak BUMN yang mendapat PMN triliunan rupiah, sahamnya di pasar modal juga dikuasai oleh investor asing.

    Secara umum, Fendi menghitung harga saham perusahaan berkode PGAS ini secara fundamental dari price to value bagus sekali. Namun, dari price to earning ratio justru negatif. Ini menunjukkan secara fundamental kuat, tapi ada dua faktor utama yang menjadi value destroyer bagi saham PGAS saat ini. Pertama, margin bisnis yang terbatas karena harga jual dipatok enam dolar AS. Kedua, adalah sengketa kasus putusan PPN gas bumi dengan DJP Kemenkeu.

    "Investor pasar modal menunggu kejelasan dari skema kompensasi bagi PGAS dari pemerintah. Hal ini sangat dibutuhkan untuk menjadi game changer atas kinerja keuangan perseroan ke depan," pungkas Fendi.

    Sepanjang 2020, PGN mencatat kerugian bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai USD264,77 juta atau sekitar Rp3,84 triliun (USD1 = Rp14.500).

    Kerugian itu terutama disebabkan oleh putusan kasasi Mahkamah Agung (MA) atas sengketa pajak 2012-2013 yang menetapkan PGN harus membayar beban pajak sebesar USD278,4 juta. Beban besar lainnya adalah penurunan (impairment) aset minyak dan gas senilai USD78,9 juta.

    Direktur Keuangan PGN Arie Nobelta Kaban menjelaskan pada 2020 PGN membukukan pendapatan senilai USD2,88 miliar atau turun 25,02 persen dari realisasi pendapatan 2019 yang mencapai USD3,85 miliar.

    Di tengah berbagai tekanan bisnis, PGN berhasil menurunkan biaya operasional atau opex sebesar USD180,4 juta. Manajemen juga berhasil memangkas pengeluaran modal (capital expenditure), salah satunya pada pembangunan pipa minyak Blok Rokan, sebesar USD150 juta atau setara Rp2,1 triliun.

    "Posisi keuangan PGN cukup baik, dengan total aset sebesar USD7,53 miliar. Aset tersebut termasuk kas dan setara kas sebesar USD1,18 miliar," jelas Arie melalui rilis resmi perusahaan.

    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id