90% Karyawan Bulog Bekerja Normal

    Ilham wibowo - 18 Mei 2020 17:10 WIB
    90% Karyawan Bulog Bekerja Normal
    Bulog. Foto ; MI/Panca S.
    Jakarta: Perum Bulog (Persero) memastikan stok kebutuhan pangan masyarakat bisa terpenuhi selama pandemi covid-19 dan momentum hari besar keagamaan seperti Idulfitri. Sebanyak 90 persen dari total karyawan tetap bekerja normal untuk bisa menjaga stabilitas pasokan dan harga.

    Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog (Persero) Tri Wahyudi mengatakan bahwa selama pandemi covid-19 hanya ada 10 persen karyawan Bulog yang bekerja dari rumah atau work from home (WFH). Meski begitu, operasional perusahaan yang tetap bertugas normal itu pun tetap dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan covid-19.

    "Yang WFH enggak ada 10 persen, semua ada di kantor, ada di gudang, ada di pasar," kata Tri dalam sebuah diskusi yang digelar forum wartawan BUMN secara virtual, Senin, 18 Mei 2020.

    Seperti tenaga medis, kata Tri, karyawan Bulog juga punya peran yang sama penting untuk bisa tetap menjamin kebutuhan pokok dan menjaga kelangsungan hidup masyarakat.

    Pada saat pandemi covid-19, permintaan pangan seperti beras bahkan meningkat tajam untuk memenuhi program sembako dari Pemerintah maupun perusahaan BUMN kepada masyarakat yang paling terdampak.

    "Kami selalu berhati-hati dalam menghadapi pandemi untuk melayani kebutuhan dasar masyarakat, pakai masker dan cuci tangan," tuturnya.

    Tri memaparkan bahwa beras merupakan komoditas yang paling dibutuhkan dibandingkan kelompok pangan lain dalam upaya penanganan wabah. Pemerintah daerah yang memiliki program berbagi sembako juga mengandalkan besar sebagai panganan utama untuk warganya.

    "Stok Bulog saat ini 1,4 juta ton tersebar ke seluruh Indonesia. Permintaan sembako banyak, semua ingin ada berasnya seperti program Gubernur Jabar dan Gubernur DKI, permintaan beras tinggi sekali, di sini kebersamaan saling bantu, semua butuh beras," ucapnya.

    Tri melanjutkan bahwa stok di gudang Bulog perlu terus dijaga dengan lebih banyak serapan gabah petani pada musim panen April-Juni 2020. Wilayah lumbung padi terbaik yang sebelumnya belum pernah terjamah Bulog juga jadi prioritas diserap.

    "Seperti di Jampang Kulon Sukabumi kami pinjam gudang ketahanan pangan 5.000 ton. Petani di Surade pada senyum, kami bayar kes di sana dan ini perjuangan Pak Dirut (Budi Waseso) buka jalur di sana. Sekarang juga sedang siapkan juga Cianjur Selatan yang panen beras pandan wangi dan ini harus diambil," paparnya.

    Serapan gabah yang dilakukan Bulog jadi angin segar bagi para petani yang kesulitan menjual hasil panennya lantaran terhadap Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB). Pasalnya, para tengkulak yang biasa menyerap gabah pun enggan menemui para petani lantaran takut tertular covid-19.

    "Harus kami beli dan datangi, kami jajaran pangan juga harus berjuang dengan risiko. Saat ini tidak banyak tengkulak datang karena pada takut, Banyuasin contoh ada gabah yang tidak terbeli," ungkapnya.



    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id