Ahok Emosi Pembangunan Kilang Pertamina Lambat

    Suci Sedya Utami - 16 September 2020 09:00 WIB
    Ahok Emosi Pembangunan Kilang Pertamina Lambat
    Komisaris Utama Pertamina Basuki Tjahaja Purnama. FOTO: MI/SUSANTO
    Jakarta: Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) secara blak-blakan membuka tabir di balik layar perusahaan minyak dan gas bumi (migas) nasional tersebut. Ahok, sapaannya, bercerita mengenai kekesalannya terhadap Dewan Direksi Pertamina saat rapat mengenai pembangunan kilang minyak yang tidak kunjung selesai.

    Bahkan beberapa kerja sama pembangunan kilang belum juga mendapatkan mitra atau investor. "Karenanya nanti saya mau rapat penting soal kilang. Berapa investor yang sudah tawarin kerja sama kalian diemin, sudah ditawarkan kenapa tolak, terus kenapa kerja seperti ini," kata Ahok, seperti dikutip dari tayangan di akun Youtube POIN, Rabu, 16 September 2020

    Dalam rapat tersebut, Ahok mengaku terpancing emosi. Namun, menurut pengakuan dirinya, hal itu sengaja dilakukan agar emosinya keluar sehingga dapat dilaporkan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi).

    "Saya lagi mau audit, cuma saya emosi juga nih. Mereka mau mancing saya emosi, kalau saya emosi dilaporkan Presiden apa? Ahok mengganggu keharmonisan," tutur Ahok.

    Saat ini Pertamina tengah mengerjakan revitalisasi empat kilang existing atau Refinery Development Master Plan (RDMP) yakni Balikpapan, Cilacap, Balongan, dan Plaju. Kemudian satu kilang baru atau Grass Root Refinery (GRR) di Tuban. Awalnya ada dua proyek GRR yakni dengan Bontang. Namun di tengah jalan, pembangunan Kilang Bontang dibatalkan.

    Pembangunan dan pengembangan kilang-kilang ini akan menambah kapasitas produksi BBM Pertamina. Selain untuk memenuhi pasokan dalam negeri, peningkatan kapasitas kilang dipercaya akan menekan impor BBM.

    Saat ini perbandingan rata-rata produksi kilang BBM Pertamina dan permintaan BBM di dalam negeri sebesar 42 juta kiloliter (KL) berbanding 59 juta KL. Artinya ada selisih 17 juta KL yang masih perlu dipenuhi dari impor.

    Berdasarkan data Pertamina, produksi BBM baru bisa melebihi permintaan pada 2026 ketika seluruh kilang baru dan pengembangan dioperasikan sehingga menambah pasokan sebesar 27 juta KL. Adapun di 2023 akan ada tambahan pasokan sebesar 11 juta KL dan di 2025 tambahan sebesar 17 juta KL.

    Dengan demikian, produksi BBM Pertamina sejak 2027 hingga 2023 diproyeksikan bakal stabil pada 86 juta KL per tahunnya dengan potensi pasokan berlebih yang bisa dialihkan ke pasar ekspor sekitar 22 juta KL per tahun dengan potensi penjualan USD11 juta per tahun.

    (ABD)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id