9 Produk Unggulan Perlu Jadi Prioritas Ekspor, Apa Saja?

    Nia Deviyana - 05 Maret 2021 11:16 WIB
    9 Produk Unggulan Perlu Jadi Prioritas Ekspor, Apa Saja?
    Ilustrasi ekspor produk sarang burung walet - - Foto: Medcom/ Nia Deviyana



    Jakarta: Komunitas pelaku usaha di Indonesia dinilai perlu mempersiapkan diri dalam menangkap peluang pasar ekspor, khususnya ke Amerika Serikat (AS), Uni Eropa, dan Tiongkok.  
     
    Dalam hal ini, Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Indonesia harus mampu memahami kebutuhan pasar global. Riset industri yang dilakukan akselerator UKM Gerakan Mimpi Bersama menunjukkan sembilan produk unggulan yang perlu dijadikan prioritas ekspor.
     
    Sembilan produk tersebut yakni sarang burung walet, ikan patin, rumput laut, alternatif minyak sawit, gula kelapa dan gula aren, air kelapa kemasan, kayu manis, kayu olahan untuk dekorasi rumah, dan minyak atsiri.
     
    "Berbekal riset industri yang telah kami lakukan, Gerakan Mimpi Bersama hadir untuk memberikan layanan channeling pembiayaan, akses pasar, serta agregasi produk-produk dari dan untuk mitra UKM," ujar CEO dan Founder Gerakan Mimpi Bersama Muhammad Yudhya Umari melalui keterangan tertulisnya, Jumat, 5 Maret 2021.
     
    Yudhya menjelaskan kunci keberhasilan menjadi UKM ekspor adalah membangun ekosistem dengan pihak-pihak yang tepat. Layanan pembiayaan harus bekerja sama dengan lembaga jasa keuangan yang kredibel. 
     
    "Lalu produknya pun perlu dikurasi bersama-sama dengan para pengusaha yang sudah terbukti berkomitmen terhadap kualitas, dan bukan hanya sekadar mencari keuntungan cepat. Dan yang terakhir, menemukan akses pasar yang tepat untuk memahami preferensi dari pihak-pihak pembeli global," tambah Yudhya.
     
    Menurut Yudhya, Uni Eropa memiliki preferensi terhadap produk-produk ramah lingkungan. Untuk Uni Eropa, UKM Indonesia bisa mengekspor produk alternatif dari kelapa sawit, dan produk gula alternatif seperti gula aren.
     
    Meski permintaan sarang burung walet oleh Tiongkok cukup tinggi, negara Tirai Bambu itu sempat melarang impor sarang burung walet dari Indonesia paDA 2008 karena memiliki kandungan nitrit yang tinggi.
     
    "Itulah mengapa kualitas harus kita jaga, dan patuh terhadap standar keamanan pangan baik di Indonesia maupun negara tujuan," tutup Yudhya.

    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id