Pengamat: Inflasi Desember Indikasi Pemulihan Ekonomi Berjalan Lambat

    Husen Miftahudin - 05 Januari 2021 11:43 WIB
    Pengamat: Inflasi Desember Indikasi Pemulihan Ekonomi Berjalan Lambat
    Ilustrasi kenaikan inflasi - - Foto: MI/ Atet Dwi Pramadia
    Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat inflasi pada Desember 2020 mengalami kenaikan menjadi 0,45 persen (mtm) dari 0,28 persen di November 2020. Bila melihat sepanjang tahun, inflasi Desember merupakan yang tertinggi.

    Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira membantah jika kenaikan inflasi di Desember menandakan bahwa terdapat kenaikan daya beli masyarakat.
     
    Maklum sejak pandemi covid-19 menggerogoti Indonesia pada Maret 2020, daya beli masyarakat langsung terjun bebas. Ini lantaran adanya kebijakan pembatasan aktivitas sosial masyarakat demi menghambat meluasnya penyebaran pandemi.

    Menilik lebih dalam, sebut Bhima, kenaikan inflasi utamanya terjadi karena kenaikan harga bahan pangan. Hal ini tercermin dari tingginya tingkat inflasi pangan atau volatile food yang tercatat sebesar 2,17 persen pada Desember 2020.

    "Jadi inflasi bukan disebabkan kenaikan permintaan, tapi karena adanya gangguan pada pasokan. Faktor curah hujan yang tinggi menyebabkan harga cabai meningkat. Kemudian ada kelangkaan pasokan kedelai impor, itu juga berpengaruh," ungkap Bhima kepada Medcom.id di Jakarta, Selasa, 5 Januari 2021.

    Dia bilang, kenaikan daya beli masyarakat dilihat dari tingkat inflasi inti. Sedangkan pada Desember 2020, tingkat inflasi intinya sebesar 0,05 persen (mtm), turun dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,06 persen (mtm).

    "Inflasi inti atau core inflation Desember menurun ke 0,05 persen. Ini sebagai indikator daya dorong pembentukan harga dari sisi permintaan cenderung rendah," jelasnya.

    Secara keseluruhan, inflasi Desember 2020 terjadi karena adanya gangguan pasokan sehingga membuat sejumlah harga-harga pangan mengalami lonjakan. Di sisi lain, daya beli masyarakat belum juga mengalami perbaikan. Artinya, tutur Bhima, pemulihan ekonomi berjalan lambat.

    "Jika disimpulkan, inflasi yang terjadi sepanjang Desember 2020 merupakan indikasi bahwa pemulihan ekonomi berjalan lambat," ketus Bhima.

    BPS sebelumnya melaporkan bahwa tingkat inflasi di Desember 2020 utamanya disokong oleh kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau dengan inflasi sebesar 1,49 persen (mtm) dan memberi andil pada inflasi sebesar 0,38 persen.

    Dari kelompok tersebut, yang mengalami peningkatan harga antara lain cabai merah dengan andil 0,12 persen. Kemudian telur ayam ras dengan andil 0,06 persen, dan cabai rawit dengan andil 0,05 persen.

    Dengan demikian, inflasi sepanjang 2020 adalah sebesar 1,68 persen. Posisi inflasi 1,68 persen tersebut terjadi baik secara tahunan atau year on year (yoy) maupun secara year to date (ytd). 

    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id