Kejar Target Satu Juta Barel, Indonesia Bisa Tiru Kolombia

    Suci Sedya Utami - 24 November 2020 16:05 WIB
    Kejar Target Satu Juta Barel, Indonesia Bisa Tiru Kolombia
    Ilustrasi produksi minyak mentah Indonesia - - Foto: Medcom
    Jakarta: Indonesia memiliki target jangka panjang untuk mencapai target produksi minyak mentah (crude oil) satu juta barel per hari (bph) di 2020. Demi mencapainya, Indonesia bisa meniru kebijakan yang diterapkan oleh Kolombia.

    Tenaga Ahli Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Nanang Abdul Manaf mengatakan Kolombia pernah mengalami penurunan produksi (decline) hingga mencapai 400 ribu bph. Kini negara tersebut bisa memproduksi minyak mentah lebih dari satu juta barel per hari.

    "Jadi bukan hal yang tidak mungkin produksi yang sudah di 500 ribu-600 ribu barel seperti kita itu bisa sampai satu juta. Kalau kita mau kembali lagi ke satu juta barel sebenarnya sudah ada contohnya, Kolombia melakukannya," kata Nanang dalam focus group discussion (FGD) virtual, Selasa, 24 November 2020.

    Nanang pun membocorkan strategi keberhasilan Kolombia dalam mendongkrak produksi minyak. Ia bilang negara dengan julukan Los Cafeteros itu melakukan reformasi yang berorientasi pada pasar atau investor. Artinya investor menjadi target yang diharapkan untuk masuk ke negara tersebut.

    Untuk menjaring investor, Kolombia tidak menerapkan special petroleum tax atau pajak khusus untuk perusahaan minyak. Kemudian adanya fleksibilitas perpajakan dengan mempertimbangkan variabel harga minyak, kondisi geologi, besarnya produksi dan cadangan.

    Ia mencontohkan ketika harga minyak fluktuasi mungkin dari sisi perpajakan menyesuaikan, spiritnya adalah win-win. Artinya ketika harga minyak dunia tinggi, maka pajaknya akan lebih tinggi dan sebaliknya pajak akan turun seiring rendahnya harga minyak dunia.

    "Kayak sekarang kalau harga minyak sedang turun makanya tax-nya dikurangkan, sehingga (beban) bagi kontraktor tidak terlalu besar, pendapatan negara lebih kecil tetapi bisnis dan investasinya jalan terus," ujar Nanang.

    Selain itu, Kolombia juga menerapkan royalti sliding scale serta Ecopetrol. Dengan kata lain, otoritas migas di negara tersebut tidak lagi mengontrol sektor migas.

    Kemudian Kolombia juga menjunjung tinggi kesucian kontrak atau menjamin kontrak yang telah disepakati. Hal ini pun membuahkan hasil dan menjadikan Kolombia sebagai salah satu negara tujuan investasi. Berdasarkan data World Economic Forum (EF), Kolombia menempati peringkat enam dunia dari 144 negara tujuan investasi.

    Selanjutnya, Kolombia turut memangkas proses birokrasi dan meningkatkan keamanan dalam rangka memperkecil kerusakan aset dari segala serangan pemberontak. Dari reformasi tersebut, jumlah kontrak migas yang diteken mencapai 80-90 persen dalam satu tahun.

    "Ini adalah impact dari reformasi yang dilakukan oleh Kolombia, ini laporan dari IHS, bagaimana setelah proses regulatory reform terjadi peningkatan dari partisipasi. Ini bukan mengada-ngada, tapi fakta kalau kita punya komitmen untuk melakukan reformasi di berbagai bidang maka (investasi) akan terjadi secara otomatis," jelas dia. 


    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id