Ahli: 83% Perokok Elektrik Meninggalkan Rokok Konvensional

    Achmad Zulfikar Fazli - 04 Mei 2021 15:28 WIB
    Ahli: 83% Perokok Elektrik Meninggalkan Rokok Konvensional
    Ilustrasi pengguna rokok elektrik. Dok. AFP



    Jakarta: Rokok elektrik atau vape disebut sebagai alat bantu yang paling efektif untuk berhenti merokok. Studi dari The University of Queensland, Australia, menyatakan rokok elektrik 50 persen lebih efektif daripada terapi pengganti nikotin (NRT) dalam membantu perokok konvensional yang ingin berhenti.

    Studi pustaka ini menyaring lebih dari 5.700 riset dan didanai Pemerintah Australia. Studi itu juga menemukan 83 persen partisipan yang menggunakan rokok elektrik memiliki kemungkinan lebih tinggi berhenti merokok daripada pengguna NRT. Mereka yang melanjutkan penggunaan NRT hanya sembilan persen.






    "Rokok elektrik lebih efektif daripada produk NRT, karena rokok elektrik mengantarkan nikotin dengan jumlah sedikit untuk meringankan gejala putus obat. Selain itu, rokok elektrik juga memberikan pengalaman perilaku dan sensoris yang serupa dengan rokok konvensional,” jelas National Centre for Youth Substance Use Research, The University of Queensland, Dr. Gary Chan, dalam keterangan tertulis, Selasa, 4 Mei 2021.

    Riset ini masih menggunakan rokok elektrik keluaran awal sebagai objek penelitian. Data itu menunjukkan ada kemungkinan rokok elektrik keluaran terbaru yang mampu mengantarkan nikotin lebih efektif mengurangi keinginan pengguna kembali merokok.

    Penelitian itu juga sejalan dengan riset Universitas Brawijaya yang dipublikasi pada awal 2020. Riset itu menyatakan Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL) dapat membantu mengurangi konsumsi rokok.

    Baca: Pengguna Rokok Elektrik Capai 2,2 juta Orang di 2020, Naik 83%

    Sayangnya, studi mengenai produk HPTL di Indonesia masih sangat terbatas. Akibatnya, mereka yang ingin berhenti merokok tidak memiliki informasi akurat mengenai pilihan yang lebih rendah risiko.

    Hal ini diamini Guru Besar Universitas Sahid Jakarta, Prof. Kholil. Dia melihat sebagian besar perokok dewasa belum familier dengan produk tembakau alternatif. Perokok juga belum mengenali manfaat produk yang mampu meminimalkan risiko akibat merokok.

    "Riset serupa perlu untuk terus dikembangkan, tidak hanya dari sisi perilaku pengguna, akan tetapi juga dari sisi produk dan kandungan di dalamnya, guna memastikan cita-cita menekan angka perokok dapat dicapai," ujar Kholil.

    Sementara itu, laporan The Global State of Tobacco Harm Reduction (GSTHR) yang terbit pada 18 April 2021, 48,6 persen perokok di Indonesia ingin berhenti merokok. Sedangkan, data Badan Pusat Statistik (BPS), persentase perokok Indonesia hanya turun 0,3 persen menjadi 28,7 persen pada 2020. Jumlah perokok yang beralih ke HPTL hanya satu persen berdasarkan laporan GSTHR.

    (AZF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id