Struktur Tarif Cukai yang Kompleks Justru Bikin Konsumsi Rokok Tinggi

    Eko Nordiansyah - 05 Juni 2021 17:31 WIB
    Struktur Tarif Cukai yang Kompleks Justru Bikin Konsumsi Rokok Tinggi
    Foto: Grafis Medcom.id



    Jakarta: Upaya pemerintah untuk menurunkan jumlah perokok di Indonesia masih terhambat oleh kebijakan cukai hasil tembakau (CHT) yang tidak pro terhadap kesehatan masyarakat. Salah satunya adalah struktur tarif CHT yang berlapis-lapis sehingga membuat harga rokok tetap terjangkau dan prevalensi perokok di Indonesia tergolong tinggi.

    Direktur Kebijakan Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) Olivia Herlinda mengatakan, simplifikasi struktur tarif CHT perlu dilakukan secepatnya. Simplifikasi semakin relevan di tengah situasi pandemi covid-19 karena negara membutuhkan dana yang lebih besar untuk program pemulihan ekonomi nasional.

     



    "Penyederhanaan atau simplifikasi struktur tarif CHT secara bertahap akan mengurangi variasi harga rokok di pasaran, terutama yang harganya terlalu murah. Sehingga, ketika harga rokok naik, perokok tidak bisa dengan mudah berpindah ke rokok yang lebih murah, karena variasinya lebih sedikit," ujar Olivia kepada wartawan di Jakarta, Sabtu, 5 Juni 2021.

    CISDI berharap, peta jalan simplifikasi yang pernah diimplementasikan oleh pemerintah pada 2018 dapat dijalankan kembali secara bertahap. Terlebih, simplifikasi juga sudah masuk ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024.

    "Tahun ini waktu yang paling tepat bagi pemerintah untuk melakukan simplifikasi. Karena selain membantu pengendalian konsumsi, simplifikasi golongan juga diprediksi dapat meningkatkan penerimaan negara dari cukai yang juga diperlukan untuk pemulihan ekonomi," ujarnya.

    Olivia juga memaparkan bahwa kerumitan struktur tarif cukai justru membuka peluang pabrikan besar untuk melakukan penghindaran pajak dengan membayar tarif cukai yang lebih murah. Selain itu, struktur tarif CHT yang rumit juga membuat pengawasan oleh Bea dan Cukai lebih sulit.

    "Selain itu rumitnya struktur tarif memungkinkan perusahaan rokok besar untuk masuk di pasaran industri kecil dengan membuat segmentasi produk dengan merek berbeda dengan jumlah produksi yang disesuaikan dengan batasan produksi di golongan tarif rendah. Akhirnya, hal ini menyebabkan perusahaan kecil semakin terpuruk juga," ungkap dia.

    Ketua Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI) Aryana Satrya mengatakan target penurunan prevalensi perokok di Indonesia belum optimal karena kebijakannya belum konsisten, signifikan, dan sinergis. Selain kenaikan CHT, harus diimbangi dengan kenaikan harja jual eceran (HJE) dan penyederhanaan struktur tarif CHT.

    Ia mengatakan, skenario Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) 2021 menunjukkan bahwa kenaikan tarif CHT dibarengi dengan kebijakan simplifikasi struktur tarif CHT menjadi tiga sampai lima strata dapat meningkatkan penerimaan negara, serta mencapai target penurunan prevalensi perokok anak menjadi 8,7 persen pada 2024.

    "Diperlukan penyederhanaan struktur tarif cukai hasil tembakau. Berkurangnya variasi harga rokok di masyarakat, akan membuat harga rokok semakin tidak terjangkau bagi anak, remaja, dan masyarakat miskin. Ini berdampak terhadap pengendalian konsumsi," ujarnya.

    Secara terpisah, Ekonom Faisal Basri mengatakan bahwa pemerintah seharusnya dapat melakukan terobosan agar rokok semakin tidak terjangkau. Faisal juga sepakat dengan rancangan Bappenas bahwa simplifikasi struktur tarif CHT harus dilakukan setidaknya menjadi tiga hingga lima layer.

    Sebelumnya, pemerintah sudah pernah mencanangkan kebijakan simplifikasi struktur tarif CHT secara bertahap pada 2017 dari 12 layer menjadi lima layer. Namun kemudian di tengah jalan peta jalan simplifikasi ini dibatalkan. Faisal menduga ada lobi dari perusahaan rokok dunia agar pemerintah membatalkan simpifikasi tarif cukai.

    "Hal ini merupakan akibat dari lobi perusahaan rokok. Di Indonesia banyak pabrik rokok yang mempertahankan layer di bawahnya supaya cukainya lebih rendah, ini terutama perusahaan asing. Padahal dia pemain dunia. Rokok is rokok. Dalam bentuk apapun, itu harus diperketat,” tegasnya.

    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id