Penurunan Harga Minyak Berdampak pada Investasi Bangun Kilang

    Suci Sedya Utami - 01 Desember 2020 14:30 WIB
    Penurunan Harga Minyak Berdampak pada Investasi Bangun Kilang
    Ilustrasi kilang minyak. Foto: Dok. SKK Mmigas
    Jakarta: PT Pertamina (Persero) mengakui rendahnya harga minyak mentah turut berdampak pada investasi dalam membangun kilang. Penurunan harga minyak membuat proyek kilang berpotensi merugi.

    Senior Vice President Corporate Strategic Growth Pertamina Daniel Purba menjelaskan, harga tersebut membuat crack spread kilang yakni selisih antara harga produk jadi (BBM) dan harga minyak mentah diperkirakan masih akan rendah dalam beberapa tahun mendatang.

    "Dengan rendahnya crack spread yang ada ini sangat memengaruhi investor untuk berinvestasi membangun kilang, karena tingkat margin yang didapatkan jauh lebih kecil dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, crack spread-nya masih cukup tinggi," kata Daniel, Senin, 30 November 2020.

    Namun, kendati hal tersebut diakui Daniel berpengaruh pada pembangunan kilang baru (grass root refinary/GRR) dan pengembangan kilang existing (refinary development master program/RDMP) Pertamina, sebagai BUMN, perseroan tetap akan meneruskan proyek tersebut.

    Ia mengatakan untuk menekan kerugian atau crack spread tersebut, Pertamina mengintegrasikan seluruh proyek kilang dengan pembangunan pabrik petrokimia, sehingga hasil akhirnya tidak hanya berupa BBM.

    "Saat ini, kami melakukan mendesain atau mengkonfigurasi pengembangan kilang yang ada agar tidak hanya berhenti di BBM tapi juga petrochemical, sehingga bisa men-justified investasi," ujar Daniel.

    Proyek kilang Pertamina yang diintegrasikan dengan pabrik petrokimia antara lain Kilang Tuban yang akan memproduksi produk-produk petrokimia seperti polipropilen 1,3 juta ton per tahun, polietilen 0,65 juta ton per tahun, stirena 0,5 juta ton per tahun, dan paraksilen 1,3 juta ton per tahun.

    Pertamina juga sempat merencanakan Proyek Kilang Bontang terintegrasi petrokimia. Namun, proyek kilang ini kemudian ditunda.

    Selain itu, Pertamina telah menandatangani frame work agreement dengan China Petroleum Corporation (CPC) Taiwan dalam membangun komplek petrokimia di Balongan, Jawa Barat senilai USD6,49 miliar. Fasilitas yang dibangun yakni pabrik naphta cracker dan unit pengembangan sektor hilir petrokimia berskala global di Indonesia.

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id